you're reading...
Posting Berita, Posting Internasional

Melawan Pemusnahan Muslim Myanmar

Terbukti LSM-LSM, bahkan Presiden SBY, tak peduli akan pemusnahan kaum Muslim di Myanmar. Kenapa?

Presiden SBY jelas beragama Islam. Dia seorang Muslim. Dan dia adalah pemimpin sebuah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang bernama Indonesia.

Karena itu menjadi sangat aneh kalau SBY sedikit pun tak bereaksi ketika di negara tetangganya, Myanmar, orang Islam dibantai, dirampok, dan diusir oleh sebuah gerakan pembasmian etnis (etnic cleansing).

SBY tak mau campur urusan dalam negeri tetangga? Salah. Ini bukan soal campur tangan. Pembasmian etnis tergolong pelanggaran HAM berat yang bertentangan dengan hukum dan norma internasional. Oleh karenanya sebagai pemimpin senior di negara terbesar ASEAN, adalah kewajiban bagi Presiden SBY memperingatkan pemerintahan Myanmar yang melakukan pelanggaran HAM berat itu. Malah lebih dari itu sudah semestinya SBY melakukan kampanye sampai pelanggaran HAM berat itu dihentikan pemerintah Myanmar.

Coba bayangkan apa yang terjadi di Myanmar sekarang: orang-orang Budha yang mayoritas memburu dan membantai minoritas Muslim. Rumah mereka dibakar, harta bendanya dirampas. Celakanya lagi, militer Myanmar yang umumnya beragama Budha ikut membantai minoritas Muslim. Banyak penduduk Muslim Myanmar yang terpaksa melarikan diri guna menyelamatkan nyawa ke berbagai negara, sebagian di antaranya ke Indonesia.

Sebagai pemimpin negara berpenduduk Muslim di kawasan ASEAN, sudah sewajarnya Presiden SBY aktif menanggapi pembantaian yang tak berperi kemanuasiaan itu. Tapi mengapa semuanya tak dilakukannya? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab SBY. Siapa pun tak bisa langsung menuduhnya sebagai seorang peragu, pengecut, banci, atau bersimpati terhadap gerakan pembantaian orang Muslim di Myanmar. Biarlah SBY menjawabnya sendiri.

Meski mungkin bisa ditebak-tebak bahwa sikap SBY itu karena Amerika Serikat sebagai negara adikuasa sekarang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan pemerintahan Myanmar di Yangoon. SBY ‘’keder’’ atau khawatir salah-salah sikap yang diambilnya bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat di kawasan ini.

Padahal SBY jelas bukan Soekarno, Presiden Indonesia pertama yang berani menantang Amerika Serikat demi kepentingan Tanah Airnya. SBY juga bukan Soeharto, Presiden Indonesia yang dekat dengan Amerika Serikat tapi dalam hal tertentu bisa bersikap independen terhadap negara adikuasa itu.

Sedang SBY adalah pecinta Amerika yang berlebihan. Dalam karir militernya ia sempat dua kali mengikuti pelatihan di Fort Bening, Georgia, Amerika Serikat, pada 1976 dan 1982. Sekolah staf dan komando pun dia jalani di negara itu, yaitu di Fort Leavenworth, Kansas, pada 1991. Pada kesempatan itulah dia menyelesaikan S2 di salah satu universitas (yang tak terkenal) di negara ‘’Paman Sam’’ itu.

Maka ketika menjabat Menko Polkam di tahun 2003 (zaman pemerintahan Presiden Megawati), SBY mengunjungi Amerika Serikat. Seperti diungkapkan Al Jazeera-English, 6 Juli 2004, pada kesempatan tersebut SBY sempat berucap, ‘’I love the United State with all its faults. I consider it my second country’’ (Saya cinta Amerika Serikat dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negara kedua saya). Tentu tak banyak orang Indonesia (apalagi pejabat) yang mau bicara seperti itu. Dengan pernyataan itu nasionalisme SBY bisa dipertanyakan. Misalnya, bila Amerika Serikat terlibat konflik dengan Indonesia, SBY berpihak kemana?

PARA BIKSU BUDHA MENGHASUT MASSA

Karenanya tak usah heran kalau Amerika Serikat dan konco-konconya betul-betul menyukai SBY. Meski pun belum bisa dituduh kalau SBY adalah antek Amerika. Belum lama ini, bekas Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer terang-terangan menyebutkan secara terbuka bahwa SBY adalah Presiden Indonesia yang paling menguntungkan Australia.

Betapa tidak? Schapelle Leigh Corby, wanita warga Australia yang sudah divonis bersalah oleh pengadilan di Bali dalam kasus Narkoba,  oleh Presiden SBY dibebaskan dengan pengampunan hukum (grasi). Gila, masa penjahat Narkoba yang membahayakan generasi muda kita bisa dibebaskan? Di mana hati-nurani Presiden SBY?  Entahlah. Tapi faktanya itulah yang terjadi. Maka wajar kalau Amerika Serikat atau sahabatnya Australia, menyebut SBY sebagai teman baik yang menguntungkan.

Kembali cerita pembantaian di Myanmar, sesungguhnya ini peristiwa yang amat memprihatinkan kawasan Asia Tenggara. Seperti dilaporkan HRW (Human Rights Watch), lembaga yang memperjuangkan hak azasi manusia di New York, Amerika Serikat, pertengahan April lalu, bahwa penyebab semua ini karena warga Muslim Rohingya tak diakui keberadaannya oleh pemerintah Myanmar. Akibat selanjutnya mereka mengalami berbagai bentuk kejahatan kemanusiaan seperti pembunuhan, penindasan, deportasi, dan pemindahan paksa.

Oktober tahun lalu, para pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan para Biksu Budha mengorganisir dan menghasut massa untuk menyerang desa-desa Muslim di negara bagian Rakhine. ‘’Pemerintah Myanmar terlibat dalam kampanye pembersihan etnis terhadap Rohingya yang terus berlangsung hingga saat ini lewat pembatasan gerakan dan tak diberikannya bantuan,’’ kata Phil Robertson, Wakil Direktur Asia HRW.

Menurut data HRW, di Negara Bagian Rakhine telah lebih 125.000 warga Rohingya dan Muslim lainnya  diusir paksa dari rumah-rumah mereka. Sekitar 180-an korban tewas sejak Juni 2012. Otoritas Myanmar ikut bersama para pengikut Budha menghancurkan dan membakar masjid-masjid dan rumah ibadah Muslaim lainnya. Aparat keamanan ikut membantu orang-orang Budha menyerang warga Muslim di Rakhine. Untuk mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran HAM berat yang terjadi di negara itu, HRW telah mewawancarai lebih 100 orang. Dan mereka berhasil menemukan sedikitnya 4 kuburan massal di negara bagian itu.

Yang paling mengherankan tokoh pejuang HAM dari Myanmar, NyonyaAung San Suu Kyi, yang gigih melawan rezim militer di negerinya, ternyata ikut menutup mata alias tak peduli atas penindasan yang dialami kaum Muslim Myanmar. Ini membuktikan bahwa sebenarnya Suu Kyi tak pantas ditabalkan sebagai pejuang HAM universal apalagi mendapat hadiah Nobel segala. Buktinya, dalam kunjungannya ke Jepang April lalu, Suu Kyi tak mau menerima 200-an warga Muslim Myanmar yang melarikan diri ke Jepang.

Artinya, setelah menyaksikan semua ini, yang bisa membantu kaum Muslim Myanmar itu hanya kaum Muslim sendiri. Oleh karena itu demo yang dilakukan 2000-an anggota Forum Umat Islam (FUI) dan FPI di bundaran Hotel Indonesia, Jumat 3 Mei lalu, harus dijadikan perjuangan awal untuk melawan penindasan kaum Muslim di Myanmar.

Ummat Islam Indonesia harus mengikuti apa yang dilakukan FUI dan FPI itu dengan mengorganisir demonstrasi besar-besaran. Karena telah terbukti LSM-LSM (seperti YLBHI) yang selama ini mengaku sebagai pejuang HAM ternyata tak peduli nasib kaum Muslim di Myanmar. Begitu pula Presiden SBY. (amran nasution)

http://www.suara-islam.com/read/index/7191/–Melawan-Pemusnahan-Muslim-Myanmar

About IslamPosting

Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Review

Review islamposting.wordpress.com/ on alexa.com
free counters
%d blogger menyukai ini: