you're reading...
Posting Dakwah

‘ Pengemis Hidayah ‘ di Pasar Dakwah

JemaahOleh: Ustad Abdurrahman Lubis

Kalau disebut pasar, biasanya terbayang suatu arena jual beli barang dan jasa, tempat bertemunya  penjual dan pembeli. Boleh-boleh saja anda membayangkan seperti itu. Tapi kali ini anda akan menemukan pasar yang lain, karena di sana tak didapati yang namanya barang dan jasa. Tak ada tawar menawar, pinjam meminjam dan sebagainya. Tapi setelah diterjuni, ternyata ada juga tawar menawar, jual beli dan transaksi. Bahkan export import. Dulu, Abu Hurairah ra, sahabat Nabi saw yang miskin (salah seorang dari ashhabus suffa) pernah berkunjung ke pasar Qoinuqo di Madinah dan berseru kepada para pedagang dan pembeli, ‘Hunaka mirotsun Nabi saw….’ (Di sana (menunjuk ke masjid Nabawi) sedang dibagi-bagikan harta warisan Nabi saw). Maka manusia berhamburan  menuju masjid ingin mendapat bagian. Tapi di sana mereka tak menemukan pembagian harta itu. Maka di antara mereka menemui Abu Hurairah dan bertanya, ‘Mana harta warisan yang kau sebut..?’  Abu Hurairah tak marah dan balik bertanya, ‘Apa yang kalian lihat di sana ?’ Dijawab, ‘Di masjid hanya ada orang mengaji, majlis taklim dan ibadah..’.  Kata Abu Hurairah ra, ‘Itu lah harta warisan Rasulullah saw’.

Amalan Abu Hurairah ra dan para sahabat lainnya dulu, itu, ternyata hari ini masih hidup, setidaknya di Pasar Dakwah Raiwind, Pakistan. Pasar dakwah ini sangat unik, karena berada di dalam lingkungan masjid dan berpagar tembok tebal dan tinggi. Sementara persis bersebelahan dengan tembok di luar arena masjid (markas Raiwind) justru ada pasar sesungguhnya yang tak kalah ramainya, menjual keperluan sehari-hari. Untuk keluar masuk antara pasar dakwah dengan pasar umum, ada pintu gerbang yang dijaga dua lapis, pertama gerbang Syu’bah Ijazat (seksi perizinan) untuk keluar, dan seksi masuk untuk ke dalam. Minta izin merupakan bagian dari amalan, dan setiap orang akan diingatkan untuk berdoa dan berzikir dan tidak berlama-lama di pasar.Karena menurut mafhum hadis,’Sebaik-baik tempat di dunia adalah masjid dan seburuk-buruk tempat di dunia adalah pasar’.

Masyaa Allah, hadis tersebut kini tak lagi tinggal di kitab-kitab yang tebal, di perpustakaan, di pondok-pondok pesanteren, dalam diskusi, bedah buku dan bahasan di majelis taklim, tapi sudah menjadi wujud nyata dalam kehidupan. Dan di pasar sesungguhnya pun hidup amalan, karena baik penjual dan pembelinya semua laki-laki. Seakan di sana tak ada perempuan. Lalu di mana kaum wanitanya ? Mereka disibukkan dengan amalan di rumah mereka masing-masing. Kecuali untuk urusan yang sangat penting mereka sesekali keluar rumah dan itu pun dalam keadaan berpakaian sempurna(hijab) dan bersama muhrimnya. Karena menurut mafhum hadis, ‘Tidak halal bagi seorang wanita melakukan perjalanan dalam sehari kecuali dengan muhrimnya’.

Jangan heran, kalau manusia berkerumun dan datang dari berbagai belahan dunia, ingin belajar memperaktekkan agama Islam secara kaffah. Di masjid mereka dapat mengamalkan agama, di pasar juga. Kalau Islam sudah masuk ke pasar, maka tak ada lagi makan riba, tak ada lagi pedagang yang menipu dan mengurangi timbangan. Dalam hadis disebut, ‘Pedagang yang jujur akan diberi ganjaran surga firdaus’, seperti Abu Bakar Siddiq ra.  Sekali waktu teman penulis membeli kacamata, di toko dekat situ, seharga 1200 rupis (sekitar 120.000 rupiah). Sehari kemudian, setelah diketahui temannya orang Pakistan, ternyata harga itu terlalu mahal, mungkin karena ia orang asing. Maka bersama orang Pakistan yang paham bahasa  urdu, pemilik toko kaca mata diminta mengurangi harga sesuai sebenarnya.

Maka dengan menyadari kesalahannya, pemilik toko mengembalikan sejumlah uang kepadanya. Demikianlah, dari orang yang datang belajar, khususnya ke Raiwind, umumnya Pakistan, India dan Bangladesh, sebenarnya  bukan untuk belajar kitab di tiga negeri itu, karena kitab-kitab agama di seluruh dunia semua sama. Mereka dapat membacanya di negeri masing-masing.Tapi mereka datang adalah untuk melihat praktek isi kitab yang sudah menjadi suasana amalan agama Islam pada umumnya, yang di negeri mereka belum ada. Nanti, kalau mereka melakukan perjalanan dakwah ke negeri-negeri lain, atau pulang ke negerinya, mereka akan berusaha mengamalkannya dengan mengajak lagi orang lain.

Demikian sehingga amalan Islam menjadi budaya para pemeluknya. Di pasar dakwah Raiwind, sosok mereka kelihatan ada yang sawo mateng (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina), hitam (Sudan, Jobuti, Somalia, Habasyah), putih bersih (parsi, libanon, cina, amerika, inggeris), coklat (umumnya orang afrika), mata sipit, hidung mancung dan sebagainya. Setiap hari  yang datang dan pergi duta-duta dari 25 sampai 50 negara. Menunjukkan mereka  datang min biladi syatta, ilaa bilaadi syattaa (dari negeri yang terpisah menuju  ke negeri yang terpisah). Nampaknya masalah ras dan warna kulit sudah tak lagi menjadi ukuran , mereka bukan hanya sekadar berkenalan tapi mejalin kasih sayang, seperti saudara kandung yang lahir dari satu perut ibu. 

Yang membuat kasih sayang yang kuat di antara mereka bukanlah ID Card (KTP) atau paspor, bahasa atau bangsa, suku atau budaya, tapi adalah kalimah Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah. Kenapa ? Karena kalimah itu mengikat mereka bak saudara kandung, kemudian membentuk mereka menjadi satu pikir, satu risau, satu kerja dan satu tujuan. Mereka datang dan pergi, silih berganti setiap hari sepanjang tahun. Mereka datang berjumpa, mengucap salam, satu pihak bicara, satu pihak mendengar, bergantian.

Materi bicaranya sederhana, tentang kebesaran Allah swt, tentang kampung akhirat dan tentang amal saleh. Ada yang menggunakan bahasa inggeris,  arab, urdu, parsi, melayu,cina dan sebagainya sesuai latar belakang mereka. Setelah itu mereka saling mengajak. Kadang tanpa menghiraukan bahasa, mereka bicara saja walaupun kepada yang berlainan bahasa, mereka yakin yang memberi kepahaman dan hidayah  adalah Allah swt.Karena sesungguhnya mereka bicara dari hati ke hati.

Sebelum mendatangi saudaranya, malam hari seusai tahajud mereka mendoakan orang-orang yang akan didatangi agar Allah swt membukakan pintu hidayah. Menangis,  merengek-rengek , mengemis-ngemis di hadapan Allah, agar Allah swt segera menurunkan hidayah kepada orang yang akan didatangi dan kepada setiap  manusia di manapun mereka berada. Mereka seperti pengemis hidayah untuk umat ini. Kalau akan diturunkan azab, agar Allah menundanya. Kalau akan diturunkan rahmat dan keberkahan, agar Allah segera menurunkannya.Mereka sangat yakin dengan hadis Nabi saw yang mengatakan, ‘Doa orang di jalan Allah makbul…’

Mereka selalu ingat pada hadis Nabi saw, ‘Laa tadkhulul jannata hatta tu’minuu, walaa tu’minuu hatta tahhabbu, awalaa adullukum ‘ala syai’in idzaa fa’altumuuhu tahaababtum  Afsyus salaama bainakum.(Kamu tak akan masuk surga sehingga beriman, kamu tak akan beriman sehingga saling kasih sayang, maukah aku tunjukkan satu amalan yang jika kalian lakukan akan menimbulkan kasih sayang ? Sebarkanlah salam oleh kalian).(HR Tirmidzi). Menyebarkan salam bukan sekadar mengatakan selamat siang, selamat sore dan sebagainya. Kata Assalamu’alaikum tak dapat diganti dengan selamat siang atau selamat sore. Kata Assalamuaiakum itu mengandung ibadah dan mendapat pahala dan mengandung nilai dakwah.Karena kata asssalamu’alaikum  merupakan hadis Nabi saw dan menuliskannya atau mengucapkannya secara tekstual atau matan merupakan amalan yang menguikuti sunnahnya.

Seorang pria sekitar 30 an tahun yang datang dari Kanada nampak semangat bicara di depan orang-orang Posto, Pakistan. Abdurrahman asal Sudan bicara dengan Ubaid dari Afrika Selatan. Muhammad dari Jobuti akrab dengan Firdaus dari Indonesia. Begitu juga ratusan dan ribuan lagi selain mereka. Mereka  berbaur, berjemaah seperti Rasulullah saw dengan Abu Bakar Siddiq ra (arab Quraisy), Khuzaifah ra (Yaman), Salman Al Farisy ra (Parsi) dan Bilal bin Rabbah ra (Habsi), berbicara dan makan senampan bersama. Seolah tak ada perbedaan suku, warna kulit, bangsa dan sebagainya.

Mereka menyerahkan penilan kepada Allah swt saja, bahwa di antara mereka yang paling mulia adalah yang paling takwa. Mereka nampaknya lebih terikat dengan kalimah Laa ilaaha illallaaah Muhammadurrasulullah. Kalimat itu begitu kuat menjadi keyakinan mereka sehingga hampir di setiap pembicaraan selalu menjadi hiasan bibir mereka. Bahkan dalam pembicaraan di pasar dakwah, yang dibuka malam hari setelah selesai program harian (ba’da isya) di luar masjid di depan math’am (tempat makan) mereka berkerumun berbicara satu sama lain sambil berdiri.

Di antara mereka ada yang baru datang untuk menunaikan waktu 40 hari atau 4 bulan, ada juga yang sudah selesai sekali tasykil (keluar dalam waktu tertentu dan transit)  ingin melanjutkan perjalanan, menyempurnakan bilangan. Bagi orang alim atau ulama, dianjurkan untuk keluar setahun penuh agar mereka dapat mempraktekkan ilmunya kepada  manusia di banyak tempat dan menjadi ‘guru’ untuk umat seluruh alam.Bukan hanya di madrasahnya atau di pesantrennya atau di majelis taklim di kampungnya. Karena mereka milik umat, bukan milik orang kampungnya atau milik negerinya saja. Sebagaimana firman Allah,’Kaaffatan linnaas ‘(untuk seluruh manusia) dan ‘ukhrijat linnaas’ (dikeluarkan untuk seluruh manusia). Dan hadis Nabi saw, ‘Taroktu fiikum amroin faintassaktum bihimaa lantadhillu abada, kitabullah wasunnatun nabii’ (Aku mewariskan dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepadanya maka tak akan pernah tersesat selama-lamanya, kitabullah dan sunnah Nabi saw). Dan warisan Rasulullah saw yang paling besar adalah dakwah, dimulai dari dirinya sendiri, kemudian mengajak

Abu Bakar Siddiq ra, dan selama 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah, sampai di ‘hijjul wada’ (haji perpisahan) di padang Arafah, ketika ayat terakhir turun, ‘Hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu, Aku  cukupkan nikmatku bagimu dan  Aku ridho Islam sebagai agama mu), saat Rasulullah saw wafat  sudah 124.000 orang masuk Islam dan ikut berjuang bersamanya. Pesan Rasulullah terakhir , ‘Falyuballigh minkum assyaahid al ghooib’ (Maka tablighkanlah oleh mu yang hadir kepada yang tidak hadir).

Itulah sebabnya para sahabat terus menyebarkan agama ke seantero jagad, tanpa menoleh ke rumah masing-masing. Demikian halnya dengan para jemaah yang sedang bergerak sekarang di seluruh dunia.Mereka membawa bekal sendiri, sebagaimana haji dan umroh. Mereka fii sabilillah (di jalan Allah), mengikuti Rasulullah saw dan para sahabatnya yang berjuang menyebarkan agama Islam ke ujung-ujung dunia. Semoga perjalanan mereka menapaktilasi perjuangan, kerisauan, tetesan darah dan air mata Nabi saw. Wallahu a’alm…

 

Penulis, Pemerhati Masalah Keislaman kini berada di Pakistan.

( Ditulis pada bulan Juli 2012 )

http://jaulah.net/html/index.php

About IslamPosting

Muslim

Diskusi

2 thoughts on “‘ Pengemis Hidayah ‘ di Pasar Dakwah

  1. Assalamualaikum ya akhi,ana numpang tanya adakah hadist tentang pernahkah Rasulullah mengadakan majelis ta”lim di pasar?sukron.

    Posted by andy | Januari 15, 2014, 7:04 am
    • itu bukan majelis ta’lim, itu latihan membicarakan kebesaran Allah dan kampung akhirat, agar kita terbiasa di mana saja berada senantiasa berusaha jumpa ummat dan bicara. Orang tidak boleh bisu dari kebesaran Allah, nanti hatinya mati dan terkena penyakit wahan, cinta dunia dan tahut mati.

      Posted by Abu Faisal | Mei 23, 2014, 1:07 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Review

Review islamposting.wordpress.com/ on alexa.com
free counters
%d blogger menyukai ini: