you're reading...
Posting Berita

Afghanistan, Perjudian Gagal Obama Tiru Langkah Bush

Presiden AS, Barack Obama ketika menyampaikan pengumuman penting strategi perang Afghanistan di Akademi Militer West Point, New York pada 1 Desember 2009. (Berita SuaraMedia)

 

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Pidato Presiden AS Barack Obama adalah sebuah perjudian ringan dari seorang pria yang memiliki pembawaan tenang. Rencana Obama untuk mengirimkan 30.000 orang tambahan pasukan bertujuan untuk menundukkan Taliban, sementara pasukan Afghanistan diperkuat sehingga Amerika pada akhirnya dapat menarik diri sebelum keadaan berubah menjadi buruk. Hal itu boleh jadi merupakan hal yang cukup baik bagi para pemilih AS untuk tahun 2012 mendatang.

Jika menilik ulang pidato Presiden Bush untuk mengirimkan tambahan kekuatan ke Irak pada bulan Januari 2007, terlihat jelas betapa pidato tersebut benar-benar diucapkan dengan hati. Obama tidak mampu melakukan hal semacam itu ketika diharuskan berhadapan dengan konflik bersenjata. Obama jelas tidak menyukai peperangan, namun dia diharuskan untuk meyakinkan orang-orang bahwa perang tersebut dapat dimenangkan AS. Pidatonya di West Point juga tidak mendekati hal itu. Pidato tersebut licin dan dipoles dengan baik, serta menggambarkan nilai-nilai Amerika, namun pidato tersebut tidak mampu membakar semangat para pendengarnya dan menegaskan bahwa AS telah melakukan hal yang benar.

Kesalahan-kesalahan Bush berpengaruh besar terhadap masalah di Afghanistan, ketika segenap sumber daya dan perhatian AS dialihkan ke Irak. Setelah itu, kredibilitas Bush hancur berkeping-keping, namun ketika seluruh dunia dan bahkan negaranya sendiri menentang tindakannya, Bush terus menggenggam erat senjatanya, dan hal itu bekerja dengan cukup baik, meski ada faktor keberuntungan dengan bantuan suku di Anbar. Sementara Obama terus saja bimbang diantara dua pilihan.

Dalam beberapa pekan ke depan, Obama dan para penasehatnya harus meyakinkan AS, para keluarga pasukan Inggris yang bertempur dan kehilangan nyawa di provinsi Helmand, serta para sekutu NATO yang masih menahan langkah, bahwa mereka harus meyakini perang yang mereka kumandangkan sendiri.

Keputusan penambahan pasukan ke Afghanistan tentu sulit mendapatkan pembenaran, khususnya dengan asumsi biaya satu juta dollar per tahun yang harus dikeluarkan untuk satu orang prajurit.

AS tengah berada dalam keadaan bangkrut. Tanpa meminjam uang setiap hari dari China dan negara-negara lain, AS tidak akan mampu bertahan. Jika keadaan terus berlanjut, AS mungkin harus meminjam uang ke Dubai. California adalah contoh pertama negara bagian yang gagal di AS.

Dapat disimpulkan bahwa satu-satunya alasan pengiriman pasukan tersebut adalah untuk menghamburkan uang. Tidak ada alasan jelas mengapa Presiden Obama dan pemerintahannya ingin menghamburkan miliaran dollar untuk Halliburton, Xe (dulunya Blackwater), KBR dan seluruh tukang keruk laba yang bukan hanya masih beroperasi di Irak, namun juga siap untuk mengeruk miliaran dollar lagi di Afghanistan dan Pakistan.

Obama mencoba mengesankan bahwa pengiriman tersebut memiliki sebab moral dan bahwa AS harus mempraktikkan moralitas mereka sendiri untuk meraih kemenangan. Obama memperlihatkan sikap yang mirip dengan pendahulunya (Bush) ketika ia menyatakan, “Dan kami harus menjelaskan kepada setiap pria, wanita, dan anak-anak di seluruh dunia yang masih hidup di bawah awan gelap tirani, bahwa AS akan berbicara atas nama hak asasi manusia, dan akan menghadirkan kebebasan, keadilan dan peluang, serta menghormati harkat martabat semua orang. Itulah kami.”

Obama telah meneruskan banyak taktik mata-mata era Bush, ditambah dengan berbagai kebijakan lainnya, Obama juga tidak memiliki kebijakan imigrasi yang efektif dan adil. Ditambah lagi dengan perkataan, “Kami tidak hendak menjajah negara lain. Kami tidak akan mengklaim sumber daya negara lain atau menarget orang-orang atas dasar keyakinan atau etnis,” dengan mimik muka serius, semakin menunjukkan sikap yang meniru Bush.

Karena, diusut atau tidak, AS memang telah menjajah negara-negara lain selama hampir satu dekade, tanpa menunjukkan tanda-tanda akhir peperangan.

Perang tersebut kini menjadi perang Partai Demokrat dan Perang Presiden Obama. Perang tersebut dapat diakhiri dengan mudah, semudah mengawalinya, jika memang ada kemauan untuk melakukan hal tersebut.

Pengiriman 30.000 orang tambahan pasukan ke Timur Tengah tampaknya amat kontraproduktif. Dengan jenderal lapangan yang sama, medan tempur yang sama, gurun yang berbeda, tujuan yang sama-sama kabur.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan kemajuan di Afghanistan dan Pakistan adalah jalan pulang bagi pasukan AS. (dn/tg/hp) www.suaramedia.com

About IslamPosting

Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Review

Review islamposting.wordpress.com/ on alexa.com
free counters
%d blogger menyukai ini: