you're reading...
Posting Jendela Keluarga

Dicari! Lelaki, Sekaligus Suami yang Sholeh!

Seri Ketiga

[Oleh: Paridah Abas]


KelimaSOPAN dan BERADAB 

Bersopan santun terhadap orang lain itu sangat mudah, terutama apabila orang tersebut darjatnya lebih tinggi; lebih alim, lebih amal, lebih dermawan, lebih berpengalaman….dan mungkin lebih kaya, lebih tinggi jawatannya , lebih besar pengaruh dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Tetapi, berhadapan dengan seorang isteri, lain lagi ceritanya.

Dengan predikat sebagai ketua rumah tangga, seorang suami diharap dapat berlaku sopan terhadap isteri yang merupakan pendampingnya, orang yang melakukan hampir segalanya untuknya, hidupnya dan anak-anaknya. Bukan hanya isteri yang berpendidikan tinggi dan berjabatan tinggi yang mendapatkan hak diperlakukan dengan sopan, malah semua isteri, tanpa melihat tahap pendidikan, latar belakang sosial, asal usul keluarga dan sejarah silamnya.

Sopan meliputi penggunaan bahasa, cara bergaul dan cara hidup. Ucapan ‘tolong’, ‘terima kasih’ selalu digunakan walaupun untuk hal-hal kecil. Makan dengan beradab walau hanya di depan isteri, memakai pakaian yang menyenangkan mata memandang (ini juga bermakna tidak makan dalam keadaan tidak berbaju), menegur dan marah dengan suara yang rendah, meminta izin bila berurusan dengan barang-barang kepunyaan isteri dan banyak lagi hal-hal lain yang kalau kita ringkaskan, sebenarnya adalah apa yang apa yang kita namakan ‘sunnah Rasul’.
Manakala maksud sunnah Rasul tidak terhad kepada poligami saja.

Keenam, FLESIBEL

Untuk manusia, ia bererti mudah dan cepat menyesuaikan diri. Tidak kaku. Berkeperibadian fleksibel bermaksud berupaya menempatkan diri sesuai dengan keperluan, waktu dan tempat, tanpa kehilangan jati dirinya. Di dalam kehidupan berumahtangga, ciri fleksibel ini memainkan peranan yang tidak kurang penting untuk mencapai harmoni. Saya tidak memaksudkan fleksibel dalam setiap perkara. Sudah tentulah untuk hal-hal menyangkut prinsip, seseorang harus bersikap tegas dan mempertahankan prinsipnya, terutama yang menyangkut urusan dien (agama).
Keupayaan bersikap fleksibel juga membawa maksud keupayaan belajar menerima orang lain seadanya, tanpa mengarah atau memaksa orang lain itu menjadi dirinya. Seorang suami menerima isterinya sebagai individu lain yang bergelar isteri, tidak mengharapkannya menjadi seperti suami.

Fleksibel di sini bermaksud dalam urusan muamalah bersama isteri dan anggota keluarga yang lain. Termasuk di sini bagaimana dia menggunakan budi bicara dalam hal yang berkaitan dengan peraturan keluarga. Sebagai contoh, dia boleh melayan anaknya sesuai dengan situasi dan kondisi, bersikap keanak-anakan ketika bermain dan tegas ketika menangani kenakalan. Dia boleh bergaul dengan isterinya dengan mesra manja dan dewasa ketika berhadapan dengan masalah sikap isteri. Dia mampu bersikap sebagai pemimpin ulung yang merakyat.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah memberikan contoh fleksibel yang baik. Baginda menerima isteri-isterinya dengan menerima bagaimana sikap dan perangai yang dibawa mereka. Antara contoh lain, baginda mendukung cucunya ketika shalat , melayan Aisyah berlomba lari, menemani Aisyah melihat orang-orang habsyi meraikan perayaan sehingga isterinya itu puas dan contoh-contoh lain. Itu, di dalam keluarga, di luar rumah, lebih baik lagi sikap fleksibel baginda Nabi.

Maknanya, sikap Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, baik di dalam atau di luar rumah, tidak jauh berbeda. Rendah hati, tinggi budi pekerti, sopan, manis dan tegas, membuahkan aura wibawa yang tak tertandingi oleh mana-mana manusia. Buktinya, sampai saat ini, setelah seribu tahun lebih kewafatannya, baginda tetap menjadi sumber inspirasi dan dicintai setulus hati oleh orang-orang yang ikhlas, dan hal ini akan berlangsung sampai ke penghujung zaman.

Ketujuh, ROMANTIS

Satu ciri lain yang menjadi idaman setiap wanita, termasuk wanita sholehah adalah romantis. Bila menyebut perkataan romantis, harus diingat, ia tidak tertakluk pada aktivitas di dalam bilik kelambu saja. Juga tak hanya berarti memberi perhatian sesaat, misalnya memberi hadiah pada saat tertentu, candle light dinner dan hal-hal lain yang sering kita lihat di film Hollywood dan Bollywood. Tapi lebih dari itu. Hal ini melibatkan rasa ikhlas yang tulus dan cinta yang suci. Ia tak dibuat-buat walau boleh dicontohi, sebab romantis datang dari hati. Tak perlu menoleh budaya lain, di dalam sirah, telah banyak contoh dan teladan tentang apa dan bagaimana romantis seharusnya wujud di dalam hubungan sepasang suami isteri.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah mengajarkan melalui akhlaqnya terhadap isteri-isterinya, bahwa romantis termasuk:
1. Panggilan khas. Baginda memanggil Aisyah dengan panggilan Humaira’.
2. Berjalan bersama isteri dan mengenalkan kepada sahabat yang belum mengenali (bukan meninggalkan isteri berjalan jauh di belakang sendirian).
3. Mengalihkan kaki isteri yang kebetulan menghalang tempat sujudnya di shalat malamnya (tanpa membangunkan isteri yang uzur syar’i ).
4. Mengenal kemarahan isteri.
5. Menenangkan isteri yang marah dengan cara yang manis. Baginda menuntunnya membaca doa untuk menghilangkan rasa marah.
6. Merelakan bahunya menjadi tempat sandaran isteri dalam waktu yang lama (ini dilakukan saat mereka menyaksikan perayaan orang-orang habsyi di masjid).
7. Minum di bekas yang sama dengan isteri.
8. Berbaring dengan kepalanya di pangkuan isteri sambil mengalunkan kalamullah.
9. Memberi hadiah kepada isteri, tanpa tergantung hari-hari tertentu.
10. Menciumi isteri walau dalam keadaan berwudhu dan pernah juga dalam keadaan berpuasa.
Masih banyak lagi contoh-contoh yang termaktub di dalam kitab-kitab hadith.
8. Dermawan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam surah Al-Munafiqun ayat ke 10 yang maksudnya;

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِي

“Dan belanjakanlah (infaqkanlah) sebahagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, ‘ Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh?’”.

Jadi apakah maksud dermawan? Dermawan ialah sikap murah hati dan rela berbagi, berbagi apa-apa yang dimiliki dengan orang lain, dengan tanpa disuruh apalagi dipaksa. Pemberian dalam berbagai bentuk dan nama; sedekah, infaq, hadiah dan hibah.

Kalaulah terhadap orang lain saja digalakkan agar bersikap dermawan, apatah lagi terhadap keluarga terutama isteri juga pada keluarga isteri. Dermawan tidak harus menunggu banyaknya harta. Dermawan hanya wujud bila orang tersebut kaya hatinya. Orang yang kaya hatinya tidak pernah dipengaruhi oleh banyaknya harta yang dimiliki.

Sebagai contoh, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu. Juga tidak merasa miskin walau tak kaya, seperti Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, sehingga tidak mengeluh dan meminta-minta kepada manusia.

Dermawan terhadap keluarga digalakkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan diberikan janji gembira. Dari Salman bin “Amir radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, baginda bersabda, “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala; sedekah dan silaturrahmi.” (riwayat Tirmidzi).

Dalam pepatah melayu, “monyet di hutan disusukan, anak di rumah mati kelaparan.” Pepatah ini mencela orang yang membiarkan keluarganya kekurangan sedang dalam waktu yang sama dia membantu yang lain.*

Penulis adalah seorang pendidik dan ibu dari enam orang anak

//Tulisan Pertama//   //Tulisan Kedua//

About IslamPosting

Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Review

Review islamposting.wordpress.com/ on alexa.com
free counters
%d blogger menyukai ini: