you're reading...
Posting Berita, Posting Jamaah

Biar Umat Tahu Siapa Salafi

Biar Umat Tahu Siapa Salafi

 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Segala puja dan puji bagi Alloh SWT, Tuhan seru sekalian alam. Solawat dan salam moga dilimpah-curahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para Sahabat-nya, serta bagi Umatnya sampai akhir zaman. Amma ba’du Sejak tahun 1990-an bermunculan gerakan-gerakan dakwah di Indonesia ini, sebagiannya berasal dari dalam negeri (contohnya Pesantren Hidayatullah, Pesantren Daarut Tauhid) sebagian berasal dari luar negeri, misalnya Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin atau IM, dari Mesir), Hizbut Tahrir (HT, dari Yordania), Jamaah Tabligh (JT, dari India), Salafi (dari Saudi), dst. Munculnya jamaah-jamaah dakwah tersebut membuat suasana dakwah menjadi semarak, banyak kajian-kajian, muncul buku-buku sama majalah, banyak akhwat yang memakai jilbab (sampai cadar). Senangnya hati ini karena munculnya ghirah keislaman yang menggelora.

Tapi dari kesemua itu, ada satu kelompok yang tampaknya paling unik/paling beda. Ia terlihat paling aktif membahas kesalahan-kesalahan kelompok-kelompok Islam lain. Jikalau pembaca bertanya ke mereka soal kesesatan IM, atau kesesatan JT, atau kesesatan HT, dijamin pembaca akan menemukan banyak kritikan-kritikan mereka. Kritikan itu kadang-kadang masih ditambahi sikap mencela, sikap menghakimi, menggelari buruk-buruk, memberi peringatan kerasnya (tahdzir-an), menjauhi. Kelompok-kelompok Islam nyaris tidak ada yang selamat dari kritikannya, malah kadang diolok-olok dan dihina secara tidak berakhlak.Siapakah mereka, ya ikhwan ? Siapa lagi kalau bukan suatu kaum yang menamai dirinya Salafi atau Salafiyun. Mereka mengakunya tidak berpartai, tidak punya organisasi, tidak berjamaah. Soal benar tidaknya, nanti kita buktikan sama-sama. Kelompok Salafi ini merasa dirinya sebagai “pewaris sah” Salafus Soleh RA; Merasa dirinya paling mengikuti Sunnah; Merasa dirinya paling bebas dari fanatik dan golongan; Merasa dirinya golongan paling selamat (firqoh al najiyyah), golongan yang ditolong (tho’ifah al mansurah); Merasa dirinya 1 firqoh selamat, sementara lainnya masuk 72 firqot yang dijanjikan masuk neraka.

Sebelum ini Umat Islam cuma jadi obyekan kritik dari Salafi, tidak banyak yang berani membalas, apalagi sampai menyerang pemahaman mereka. Tapi orang-orang yang sudah gemes sama kelompok ini semakin banyak, mereka datang dari macam-macam golongan. Pelan-pelan mulai muncul kritikan-kritikan yang dialamatkan ke kelompok SALAFI ini. Kritikan tajam mulai digoreskan oleh Al Ustadz Farid Nu’man, seorang dai Jamaah Tarbiyah/IM dari Jakarta. Ustadz Farid Nu’man membela tokoh-tokoh IM yang jadi obyek kritikan Salafiyun. Buku Al Ustadz Farid Nu’man judulnya Al Ikhwanul Al Muslimun: Anugerah Alloh yang Terzalimi. Sampai juga muncul buku lain yang judulnya Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak: Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi, yang digoreskan oleh Al Ustadz Abu Abdirrahman Al Thalibi. Buku terakhir ini menyentak para aktivis dakwah Islam di Indonesia sebab penulisnya secara transparan menguliti kesalahan-kesalahan kaum Salafi yang dulunya bergabung di Laskar Jihad dengan memakai sumber tulisan-tulisan mereka sendiri. Ada yang bilang buku itu sempat best seller.  Masyarakat baca buku makin tertarik setelah terbit buku yang berjudul Siapa Teroris Siapa Khowarij hasil goresan Al Ustadz Abduh Zulfidar Akaha. Buku terakhir ini menambah daftar panjang kritikan buat Salafi. Masyarakat dakwah makin “kepanasan” setelah beredar VCD bedah buku Siapa Teroris Siapa Khowarij itu. Rasanya lengkap sudah  ya kritikan-kritikan buat Salafiyun.

The last (maybe not real “the last”), terbit buku baru hasil goresan Al Ustadz Al Thalibi lagi yang judulnya sama dengan judul buku pertama, yakni Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak II: Menjawab Tuduhan. Melihat judulnya saja kita menyangka disitu banyak perdebatan-perdebatan, nyatanya memang begitu. Di buku itu Al Ustadz Al Thalibi berjibaku menjawab tuduhan-tuduhan ustadz-ustadz Salafiyun yang dialamatkan ke dia. Perdebatan-perdebatannya seru, jawab-menjawab, tuduhan-tangkisan, argumen-argumen saling beradu. Rasanya kepala kita panas banget kalau mengikuti liku-liku perdebatannya. Banyak yang tak terduga. Kalau melihat bobot tuduhan ustadz Salafi, rasanya sulit bisa mengelak tapi Al Ustadz Al Thalibi bisa menjawabnya juga. Sangat menarik, insya Alloh buat teman-teman aktifis Islam banyak manfaatnya buat yang mau menyelami arus perdebatan pemikiran dan seninya beda pendapat dengan orang lain.

Jika ditimbang-timbang, banyak ikhwan-akhwat yang tidak tahu duduk perkara pemahaman-pemahaman Salafi ini, apalagi di internet-internet ikhwan Salafiyun aktif sekali menyebarkan paham plus bantahan-bantahan. Tapi kami memandang kelompok Salafi ini memiliki sekian penyimpangan paham yang harus diingatkan, kami mendukung kritikan-kritikan membangun ke mereka, selagi tidak asal comot dan main emosi. Kami sepakat dengan Al Ustadz Al Thalibi yang menarik kesimpulan kalau Salafi itu sebenarnya kelompok hizbiyyah.

Mengingat banyak mungkin ikhwan-akhwat yang belum membaca buku Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak II: Menjawab Tuduhan, kami akan menampilkan nukilan-nukilannya secara berseri. Bila pembaca mau yang lengkap dan original (tidak kecampuran opini dari kami) cari saja bukunya, sudah beredar di toko-toko. GPK-Salafi cuma mengambil nukilan-nukilan penting yang sekiranya perlu diketahui bersama.

Ini jadi pelajaran juga buat Salafi, sebab mereka aktif mengkritik orang lain tapi tidak mau buka telinga mendengar kritikan orang lain. Kami sarankan kalau Salafi memang merasa paling benar, tolong baca buku Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak II: Menjawab Tuduhan itu. Syukur saja kalau ada Salafi yang mau menurunkan buku bantahan buatnya. “Ayo Salafi…kamu bisa!”

Contoh nukilan pandangan Al Ustadz Al Thalibi, yakni:

Luqman Ba’abduh menulis: “Ikhwanul Muslimin adalah suatu kelompok yang memprioritaskan gerak da’wahnya dalam rangka mewujudkan persatuan kaum muslimin di atas segala-galanya. Sehingga kelompok ini tidak menghiraukan berbagai praktik kekufuran, kebid’ahan, dan kesesatan yang tumbuh subur di tengah-tengah kaum muslimin.”

Komentar: Kalimat yang ditebalkan dari kutipan di atas merupakan bentuk tuduhan Luqman Ba’abduh terhadap Ummat Islam di seluruh dunia. Dia tidak merinci secara jelas praktik kekufuran apa yang tumbuh subur di tengah-tengah kaum Muslimin, dimana letaknya, serta bagaimana reaksi Ummat terhadapnya? Bahkan kekufuran itu pun masih ditambah dengan kebid’ahan dan kesesatan, padahal di antara bid’ah dan kesesatan itu ada yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Negara seperti Arab Saudi sendiri tentu masuk ke dalam kalimat “di tengah-tengah kaum muslimin”.

Dengan bukti seperti ini, sebenarnya Luqman Ba’abduh telah melakukan pengkafirkan Ummat Islam secara global. Seharusnya, Luqman Ba’abduh mensyukuri nikmat Allah atasnya, bahwa dia dilahirkan di negeri Muslim, hidup berdampingan dengan Ummat Islam, serta pernah menimba kebaikan dari kaum Muslimin. Sangat tidak layak dia menulis kalimat seperti itu.

Jika benar apa yang dikatakan Luqman Ba’abduh bahwa di tengah-tengah kaum Muslimin tumbuh subur kekufuran, maka di wilayah mana fenomena kekufuran itu merajalela? Di Arab Saudi? Di Yaman? Atau Indonesia? Jika Luqman Ba’abduh menyebut Indonesia, berarti dia selama ini hidup di lingkungan yang tumbuh subur kekafiran di dalamnya. Sungguh, Ummat Islam bisa sangat kesal atas klaim sok suci yang diperlihatkan oleh manusia satu ini. Seolah-olah hanya dirinya yang hidup muslimah, sedang orang lain hidup di tengah-tengah kekufuran yang tumbuh-subur. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Seandainya di tengah Ummat ini ada praktik-praktik kemusyrikan, apakah tidak ada pihak-pihak Ummat Islam yang berusaha memperbaiki keadaan itu? Apakah hanya Luqman Ba’abduh dan kawan-kawan saja yang peduli? Jika mereka benar-benar bertanggung-jawab, apa yang telah mereka lakukan untuk memperbaiki keadaan? Apakah mereka pernah membongkar kuburan-kuburan di masjid? Apakah mereka pernah membubarkan acara ‘Larung’ di Pantai Selatan? Apakah mereka telah membersihkan para dukun-dukun dan tukang sihir dari negeri ini? Apakah mereka telah memusnahkan pusaka, jimat, haikal, rajah, dst. dari rumah-rumah Muslimin? Apakah mereka telah berjuang untuk menghentikan acara-acara mistik di TV-TV?

Apa jawaban mereka? Paling-paling mereka akan berkata, “Oh ya, kami telah memerangi syirik dengan cara setiap saat berkumpul di majlis taklim, membahas dan diskusi kitab-kitab tauhid karya para ulama ahli ilmu.” Ketika didesak amalan kongkret, lebih dari sekedar duduk-duduk di majlis ilmu, mereka berkilah, “Ya, kami bertakwa kepada Allah sekuat kesanggupan kami. Kalau belum mampu berbuat, ya sabar dulu!” Laa quwwata illa billah. Klaim mereka telah melesat ‘setinggi langit’, tetapi ketika ditanya soal tanggung-jawab kongkret, jawabannya selalu itu-itu saja.

Maraji’: Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak II: Menjawab Tuduhan, Al Hujjah Press, Jakarta Timur, cetakan I April 2007, hlm. 100-101.

Ali bin Abi Tholib RA. berkata, “Istirahatkan hatimu sesaat-sesaat, karena hati itu kalau terus dipaksa akan menjadi buta”. Nasehat ini penting direnungkan, ternyata sesuatu itu kalau dipaksa-paksa jelek hasilnya. Termasuk merasa soleh dengan menyandangan gelar Salafi, tidak tahunya hatinya rusak karena terjerumus TAKFIR kepada Umat Islam secara global.

Alhamdulillahirobbil’alamin.

GPK-Salafi

About IslamPosting

Muslim

Diskusi

53 thoughts on “Biar Umat Tahu Siapa Salafi

  1. Assalam…
    Akhi, ana mnta ijin ya untk copast ke blog ana.,
    krna ada tman ana salafi yg demikian,
    supaya Allah mmperlhatkn yg trbaik.
    Jazakallah…

    Posted by Aryawan bancin | November 11, 2012, 7:10 am
  2. maw taw salafi kunjungi link berikut ahlussunnah.web.id, mari bicara dengan penuh ilmiah

    Posted by ahmad al aljawy | Desember 6, 2012, 11:15 pm
    • ilmiah itu jika satu teori terbantahkan dengan adanya teori baru dengan penemuan baru mas… jika dapat dalil baru dalil lama di tinggalkan … agama ga seperti itu kan?

      Posted by rezky jan | Agustus 6, 2013, 4:04 am
  3. menurutku…maksudnya gak demikian deh…………..sy sangat senang mendengar ceramah2 ustadz2 salafi di tv rodja…sejuk dan menenangkan………insyaallah bagus deh..gak seperti kata2 org tentang salafi….yang ekstrim,kaku,soq paling bener….prinsipx cuma satu..mengikuti AL QUR’AN DAN SUNNAH DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSSALEH…………..
    mudah2n org awam seperti saya bisa mengikuti salafussaleh..

    Posted by jojo | Januari 22, 2013, 3:34 pm
    • hahahaha anak kecil juga tauuuu jawaban anak baru puber

      Posted by ahdya | April 7, 2013, 8:52 am
    • maaf boleh numpang ya … kemarin hari rabu tanggal 24 April 2013 , di TV Rodja disampaikan kesesatan salafi antara lain tidak mengakui pendapat ulama , suka mengkafirkan orang lain , merasa paling suci , suka mencemooh , sementara itu semua sanagat sangat dilarang oleh agama , banyak hak prerogatifnya Allah tyang diambil menjadi haknya salafi , yang bener aja , coba baca buku buku yang lain seperti imam al ghazali , ar rabi mereka para sufi besar dijamannya agar pemahaman kita bertambah jangan hanya dari satu buku saja , karena diatas langit masih ada langit , mesti harus akui juga kelebihan orang lain …tauwa …kata orang sulawesi tenggara…..banyak banyaklah solat malam tahajud minta petunjuk sama Allah , Rab penguasa Alam bukan salafusaleh………..nanti jadinya fanatisme salafusaleh ………..
      Semoga mendapat pencerahan….insya allah utamakan pelaksanaan dalam ibadah jangan banyak tanya teta[pi tidak ada pelaksanaan krn yang diminta setelah kita lahir di dunia adalah pelaksanaan ibadah kepada Allah sWT …

      Posted by SOEKIERY | April 25, 2013, 2:48 am
  4. menurutku…maksudnya gak demikian deh…………..sy sangat senang mendengar ceramah2 ustadz2 salafi di tv rodja…sejuk dan menenangkan………insyaallah bagus deh..gak seperti kata2 org tentang salafi….yang ekstrim,kaku,soq paling bener….prinsipx cuma satu..mengikuti AL QUR’AN DAN SUNNAH DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSSALEH…………..yg bener dikatakan bener ,yang salah dikatakan salah..
    mudah2n org awam seperti saya bisa mengikuti salafussaleh..

    Posted by jojo | Januari 22, 2013, 3:35 pm
    • teman dari hti pasti senang nih. dihttp://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-2-memberikan-suara-dalam-pemilu.html
      buat fatwa boleh mencoblos pemilu lengkap dengan dalil lengkap.
      fatwa wajib mencoblos..
      kalau kita ingat artikel mereka, mereka katakan islam sudah sempurna jangan dikurangi atau jangan di tambahi
      pertanyaan saya,1. apakah islam tidak mengatur tentang memilih pemimpin
      katanya wajib, berarti ada dalilnya,
      2. banyak dalil yang di berikan tetapi tidak ada 1 dalilpun secara kontekstual menyatakan bahwa pemilihan pemimpin dengan cara nyoblosh.
      berrti menakwilkan ayat nih, padahal kata mereka ulama dahulu itu jahil suka menakwilkan ayat.
      kesimpulanya senjata makan tuan nih……ha ha..haaaaaaaaaaa

      Posted by wahhaby | Maret 25, 2014, 1:53 pm
    • malu dikit dong, orang salafy pantang menyebut anggota salafy orang awwam. merendahkan martabat manhaj salafy saja, apa kata dunia

      Posted by wahhaby | Maret 25, 2014, 1:58 pm
  5. Pelajari dulu salafy…

    Posted by abu yazid | Januari 26, 2013, 2:16 pm
    • assalamu ‘alaikum warahmatullah wahai saudaraku… apapun kelompok; aliran, organisasi, paham, mazhab antum sekalian…. marilah saling menghormati! orang2 kafir tepuk tangan, syaithon apalagi….

      Posted by rezky jan | Agustus 6, 2013, 2:33 am
  6. Saya sudah pelajari salafi, mereka berdalih dengan hadist-hadist shohih dan saya suka itu …….
    namun mengingkari hadist-hadist shohih lainnya dan karena kebencian mereka terhadap aliran yang tak sefaham dengan mereka akhirnya mereka tak berakhlak.

    Posted by Fajar Setiawan | Februari 4, 2013, 12:51 am
  7. maaf kalau berlebihan, tapi betul saya setuju sama artikel ini. ucapan dari rekan2 salafi sering “ngga ngenakin”. kritik tapi gak suka dikritik. sebenarnya kita sebagai umat islam ini apa sih yang dicari? perpecahankan? atau persatuan?

    tanya hati kecil kita masing-masing.

    Posted by irvan | Februari 5, 2013, 9:24 am
    • Semua umat islam sepakat rujukan dalam beragama adalah Al-quran dan Assunah, adapun maksud daripada mengikuti keduanya dengan pemahaman salafussoleh adalah sesuatu yang bidah atau baru karena tidak ditemukan dijaman para ulama terdahulu yg masanya sangat dekat dengan zaman shahabat dan thabiin . Pemahaman semacam ini adalah hal baru yg muncul oleh kalangan ulama wahabiah dan pengikut-pengikutnya. Mereka melogikakan syariah harus sesuai dengan amaliah jaman shahabat, padahal di zaman itu belum ada kodifikasi keilmuan yang dibukukan oleh imam-imam muztahid seperti lmu tauhid/kalam, ilmu fiqh, ilmu tasauf, dan lain-lainnya. Sungguh sangat disayangkan pemahan yang keliru ini ditunggangi hawa nafsu (keegoaan) yang merasa merekalah yang paling benar dan suci dan menganggap orang lain yang tidak seirama dengan sebutan kafir dan sesat.

      Posted by 13juni2005 | Februari 10, 2013, 12:41 pm
  8. coba deh kita dengarkan radio/tv rodja, tentunya dengan legowo/lapang dada insyaallah gak seperti yg diutarakan tadi…

    Posted by iyan | Februari 12, 2013, 4:14 am
  9. saya kira yang membahas salafi ini, belum tahu secara keseluruhan,,,pada akhirnya terjebak dalam situasi dimana menuduh salafy yang paling benar, tpi malah yang bicara memperlihatkan diri paling benar..sebagian mungkin ada yang seperti itu, tapi jangan menuduh pemahaman salafy itu salah,, bisa jadi orang yang mengimplementasikannya tidak sesuai,,,jadi sebelum menulis tulisan yang dapat menimbulkan kontra sebaiknya matangkan dulu pemahaman dan sikap arif dalam ber-opini….

    Posted by ummahat | Februari 20, 2013, 3:44 pm
    • MAAF SAUDARA KALAU OPINI KAN PENDAPAT SAMA JUGA DONG / YANG DIINGINKAN ADALAH ILHAM ATAU HIDAYAH DARI ALLAH BUKAN PENDAPAT PENDAPAT .KALAU SEMUA HANYA DIDASARI AKAL ,NALAR DAN LOGIKA HANYA AKAN MENGHASILKAN ILMU COBA DALAMI ATAU PELAJARI DENGAN HATI ATAU QALBU INSYA ALLAH AKAN MENDAPATKAN JAWABAN YANG SEBENAR BENARNYA , BANGUN TENGAH MALAM ,LAKSANAKAN SHOLAT TAHAJUD MINTA PETUNJUK SAMA RAB YANG MANA YANG BENAR MENURUT ENGKAU YA RAB SUDAH BEGITRU BANYAK KELOMPOK DAN ALIRAN YANG KESEMUANYA MENGANDALKAN EGO KELOMPOKNYA , MERASA DIRINYALAH YANG PALINMG BENAR LALU BAGAIMANA YANG LAIN ? COBA BIJAKSANALAH JANGAN BERGANTUNG KEPADA MANUSIA ATAU SIAPAPUN DIA TAPI BERGANTUNGLAH KEPADA ALLAH , BERTANYALAH KPD ALLAH , PASTI ADA JAWABAN SELAGI BENAR BENAR BERTANYA SEPENUH HATI ………INSYA ALLAH

      Posted by SOEKIERY | April 25, 2013, 2:57 am
    • saya kira ber opini itu sah2 sj asalkan ada bukti kongkritnya di lapangan, dan faktanya faham salafi memang seperti itu, anda saja yang sudah terdoktrin faham salafi jadi walaupun seburuk-buruknya pemahaman yang anda anut, akan mati-matian di bela, cob anda buka mata kenapa faham kami dihujat, dan anda mau mencari akar persoalannya, pasti anda akan menemukan jawabannya.

      Posted by gus | Juni 30, 2013, 11:59 pm
  10. Kesan saya setelah membaca artikel ini adalah penulis sepertinya sangat senang dengan acara debat-mendebat, bantah-membantah. Bahkan mengatakan itu hal yang seru. Allahul Musta’an.
    Padahal, ustadz-ustadz salafi melakukan itu semua sebagai nasihat untuk kaum muslimin di Indonesia, agar mereka tidak ikut2an pada perkara yang salah. Dan mereka, bila kita mau jujur, sangat membenci perpecahan dan perselisihan di dalam Islam.

    Posted by ibnuabialif | Maret 9, 2013, 7:34 am
  11. Bahkan sampai dengan sekarang saya tidak menemukan kebencian salafi itu :)
    Boleh di ikuti majelisnya , tapi di lingkaran hangat tarbiyah pks, saya menemukan hal itu :)
    Kenapa ?
    Takut kadernya berahli ya, dan gak ada yang milih pas pemilu, renungankan, gak harus di buat buku ya
    Afwan

    Posted by agungprabowo | Maret 14, 2013, 3:51 am
  12. sebenarnya kalau kaum salafi mengatakan:ini bid’ah,dan yg itu sesat dan di lihat kebenaranya,sesuai Alquran dan sunnah jg amalan yg di contohkan nabi saw.itu lah kecintaanya kpd sesama muslim.

    Posted by Mas Dedi | April 22, 2013, 1:09 am
  13. tulisan yang bagus.. semoga bermanfaat.

    Posted by ahmad | April 23, 2013, 2:55 am
  14. bukan hanya salafi yang mengkalim itu tapi MUHAMMADIYAH dan NU juga menyatakan sebagai aswaja… mohon yang adil…

    Posted by attajalli | April 25, 2013, 4:35 am
  15. maaf hampir semua kelompok islam menyatakan mereka yang benar, termasuk anda yang menulis artikel ini, bukan cuma salafi

    Posted by juha | Mei 7, 2013, 6:15 am
  16. dakwah salafi terus bertambah banyak.. apa mereka yang pintar atau…????

    Posted by juha | Mei 7, 2013, 6:17 am
  17. Beberapa kali saya mendengarkan siaran radio salafi, Hampir setiap isi ceramah2 yang disampaikan tidak sepi dari penistaan terhadap para pejuang islam atau mujahidin di tanah penjajahan.
    saya mengajak “orang-orang alim” dari kalangan salafi/salafy serta kaum muslimin pada umumnya, untuk berpikir dan menelaah dengan nalar sederhana.
    Bukankah negeri kita Indonesia dulu dijajah oleh belanda ? slogan apakah yang diteriakkan oleh belanda ketika ada dari anak bangsa yang bangkit untuk melawan untuk membebaskan negerinya dari kedzaliman penjajah belanda… ?
    Mereka memberi label negative kepada para pejuang dengan sebutan ekstrimis atau pemberontak. Lalu Belanda berusaha dengan berbagai cara memprovokasi rakyat dengan sebutan tersebut terhadap para pejuang kemerdekaan.. maka orang-orang yang bisa mendapatkan makan terlebih lagi mendapatkan jabatan membantu meneriakkan slogan atau tuduhan tersebut.
    Tujuan penjajah tidak lain agar cengkeraman kekuasaan dan kelanggengan jajahannya bertahan dan tetap terpelihara.
    Demikian pula halnya yang terjadi saat ini…!
    Dimana Negara adikuasa Amerika bersama sekutunya Negara-negara kafir lainnya memimpin penjajahan terhadap negeri-negeri muslim.
    Kebencian negeri-negeri kafir yang dikomandani oleh Amerika terhadap sejarah gemilang kejayaan Islam di Irak membuat mereka menjajah dan menghancurkan negeri tersebut, membantai menodai kehormatan serta kedaulatan kaum muslimin, menghilangkan simbol2 peninggalan kejayaan islam termasuk mesjid dan menara-menaranya yang tinggi serta madrasah,perpustakaan-perpustakaan yang memelihara khasanah ilmu islam, Sehingga seorang wartawan independen berkebangsaan inggris Heran dan bertanya-tanya siapa yang bertanggung jawab terhadap hampir 1 juta nyawa penduduk irak yang melayang terbantai sejak invasi amerika dan sekutunya..?
    Nah, Untuk mempertahankan hegemoni penjajahan mereka serta kelangsungan misi penyebaran salib, mereka melakukan segala cara, termasuk stigma negative dengan label teroris terhadap orang-orang atau kelompok gerakan yang menghalangi.
    Ternyata hari ini orang-orang salafi dalam hal ini juga menyerukan hal yang sama: mereka teroris bukan pejuang apalagi mujahid bahkan lebih buruk lagi dengan sebutan khawarij. Walau terkadang dengan bahasa yang cukup “santun”, untuk menipu umat, mereka adalah orang-orang yang akidahnya tidak benar, tidak lurus, tidak sunnah dlsb.
    Demikianlah pengulangan sejarah terjadi sepanjang pertarungan ideology dan peradaban manusia berlangsung.
    Saudara-saudaraku kaum muslimin yang bersayahadat bersaksi bersumpah asyahadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadua anna muhammadurrasulullah.
    Lupakah kita dengan sejarah nabi kita ?
    Bukankah orang-orang kafir menjuluki beliau dengan nama-nama yang buruk dan menakutkan? Memutar balik fakta dan penipuan serta pembodohan terhadap umat manusia di kala itu lewat propaganda-propaganda mereka?
    Orang gila Tukang sihir, tukang syair, pendusta, itulah gelar-gelar atau stigma negative yang disematkan kepada beliau salallahu ‘alaihi wa sallam sehingga orang-orang menjadi takut dan menjauh dari beliau bahkan menghujat beliau.
    Propaganda kafir quraisy dan musyrikin arab ini kemudian dibenarkan oleh orang-orang MUNAFIQ.
    Hari ini Lebih nista lagi orang-orang salafi mengatakan bahwa yang terjadi di palestina bukan jihad, tapi adalah perlawanan berdasarkan nafsu, bersifat wilayah atau kenegaraan saja. Bukan jihad..! (radio salafi tgl 30 november 2010 jam 06.14)
    Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.
    Aqidah macam apakah itu?
    Dari mana guru-guru mereka ? barangkali ini jawabnya juga dengan nalar sederhana,
    Ada Apa sebenarnya di universitas islam di timur tengah dan Negara-negara mayoritas muslim lainnya?
    Saudaraku seiman, seislam, setanah air,
    Bukankah hari ini yahudi dan sekutu-sekutunya menguasai peradaban dunia? Jawabnya sudah pasti ia.
    Pertanyaan berikutnya : mungkinkah Negara-negara muslim dengan lembaga2 pendidikan islam termasuk universitasnya bisa mengajarkan mengamalkan dan menerapkan islam dengan kaafah ditengah cengekraman yahudi dan sekutunya? (orang awampun bisa jawab dengan nalar yg sederhana.
    Terlebih lagi lembaga-2 tersebut memberikan bea siswa penuh…? Jangan salahkan pepatah berkata anjing tidak akan menggigit tuannya.
    SAUDARA-SAUDARAKU kaum muslimin.. marilah kita jujur terhadap diri kita, terhadap agama Allah bahkan jujur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukankah Allah Ta’ala sudah menegaskan.. Wala tamutunna illa wa antum muslimun. Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. muslim sejak lahir sampai mati, bukan salafi ataupun yang lainnya.
    1. Aqidah salaf memang jadi panutan tapi penamaan salafi bukan qudwah hasanah.
    2. Aqidah salafi dengan dakwahnya sering dengan halus membela amerika, jika suatu saat amerika menurunkan pasukan untuk menjajah muslim Indonesia (mayoritas), maka orang-orang salafi berdiri di pihak mana?
    3. Kalau beberapa kelompok orang-orang muslim tampil maju, mereka menembus batas wilayah bahkan menyeberangi benua untuk membela saudara muslim yang tertindas dijajah dibantai dan drampas harta dan kehormatan serta kedaulatan mereka (afganistan irak suriah) dijajah oleh orang kafir disebut teroris bahkan khawarij lalu orang-orang salafi sendiri disebut apa?

    Posted by mufakkir islamy | Juni 19, 2013, 5:04 pm
  18. jika kurang puas…? tanya sama kafirin. hei fir kafir ..? siapakah sebenarnya musim sejati? ustadz sejati?
    siapakah TAIKmu yang ada di indonesia?
    (singkatannya : Trusted American Intelektual Klan)
    kalo jujur mereka merka akan jawab sebagai mana jujurnya hati kita tentang kebenaran..
    bahwa kebenaran semakin kelihatan nyata dari hari ke hari..
    yang dimusuhi oleh kafir itulah muslim sejati..
    masih belum yakin? temui saja si kafir sana.. mereka akan menjawab dengan menyeringai kalian semua bodoh…. hahahaha…..
    gak lihat tuh siapa yang kami buru siang malam?
    kalian muslim gak tau siapa yang diburu dikejar abu jahal siang malam?
    hahahha…

    Posted by mufakkir islamy | Juni 19, 2013, 5:13 pm
  19. Benarkah Pemerintah Ini Termasuk Ulil Amri Yang Wajib Ditaati??
    Siapakah Ulil Amri yang Wajib Ditaati ?

    Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘aalamiin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul yang paling agung Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para shahabatnya seluruhnya.

    Ikhwani fillah… materi kali ini, kita akan meluruskan pemahaman yang ada di masyarakat berkenaan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian”. (An Nisa : 59)

    Ayat ini adalah ayat yang sering kita dengar dan digunakan oleh banyak orang dalam rangka mewajibkan masyarakat untuk taat kepada pemerintah Republik Indonesia ini. Oleh karena itu perlu kiranya kita meninjau kembali atau meluruskan posisi ayat ini secara proporsional. Mari kita pahami siapa orang-orang yang beriman dalam ayat tersebut dan kaitannya dengan realita Pemerintahan Republik Indonesia ini…

    Tinjauan ayat :

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian”. (An Nisa : 59)

    “Hai orang-orang yang beriman…”, ini adalah khithab (seruan) terhadap orang-orang yang beriman. “…taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian” , ulil amri adalah ulil amri dari kalangan kalian, yaitu pemimpin muslim atau pemimpin yang mu’min, itu adalah pengertian sederhananya.

    Jadi, pemimpin yang harus ditaati ─tentunya selain dalam maksiat─ adalah pemimpin muslim, karena Allah mengatakan “min kum” (dari kalangan kalian) setelah mengkhithabi “hai orang-orang yang beriman”.

    Orang yang beriman atau orang muslim yang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma adalah orang yang beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut, berikut ini adalah penjabarannya :
    1.Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqarah : 256 :

    “Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang teguh pada al ‘urwah al wutsqa”.

    Al ‘urwah al wutsqa adalah buhul tali yang amat kokoh, yaitu Laa ilaaha illallaah, artinya barangsiapa kafir kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia itu orang yang mengamalkan Laa ilaaha illallaah, orang yang sudah masuk Islam, karena pintu masuk Islam adalah dengan perealisasian Laa ilaaha illallaah sebagaimana ini adalah rukun Islam yang pertama.

    Orang tidak dikatakan beriman kecuali jika dia beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut. Jika orang beriman kepada Allah tapi dia tidak kafir kepada thaghut maka ia bukan orang yang beriman, ia bukan muslim… itu berdasarkan nash Al Qur’an. Maka dari itu Allah dalam ayat ini mendahulukan kafir kepada thaghut (Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah) supaya tidak ada orang yang mengklaim behwa dirinya beriman kepada Allah padahal dia belum kafir kepada thaghut pada realita yang dia kerjakan.
    2.Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali Imran : 64 :

    “Katakanlah (Muhammad): “Hai ahli kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim”.

    Jadi, yang diserukan kepada ahli kitab adalah pengajakan untuk berkomitmen dengan Laa ilaaha illallaah, ibadah kepada Allah dan meninggalkan penyekutuan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di ujung ayat Allah menyatakan; “jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim”, maksudnya jika mereka berpaling dan tidak mau meninggalkan para arbab itu maka saksikanlah bahwa kami ini orang muslim dan kalian bukan orang muslim.

    Berdasarkan ayat itu kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang tidak merealisasikan apa yang dituntut oleh ayat ini, yaitu ibadah hanya kepada Allah, meninggalkan sikap penyekutuan sesuatu dengan-Nya dan meninggalkan sikap menjadikan selain Allah sebagai arbab, maka orang yang tidak mau meninggalkan hal itu adalah bukan orang muslim.

    3.Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat At Taubah : 5 :

    “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”.

    Taubat dari apa…? Taubat dari kemusyrikan dan segala kekafiran, yang maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum muslimin untuk melakukan pembunuhan, pengepungan dan pengintaian apabila orang-orang itu sudah taubat dari segala kemusyrikan dan kekafiran, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, berarti orang muslim itu tidak boleh diganggu. Maka orang yang tidak taubat dari kemusyrikannya berarti dia itu bukan orang muslim.

    4.Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat At Taubah : 11 :

    “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian saru agama”.

    Jika mereka bertaubat (dari kemusyrikannya), maka mereka adalah saudara satu agama, maksudnya mereka itu orang-orang muslim, karena sesama muslim adalah saudara, sebagaimana dalam surat Al Hujurat : 10 :

    “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.

    Berarti jika sebaliknya, dia tidak mau meninggalkan kesyirikannya meskipun dia shalat, zakat, dan melakukan ibadah lainnya, maka dia bukan ikhwan fiddin (saudara satu agama) dan berarti dia bukan orang mu’min, karena ukhuwah imaniyyah itu tidak terlepas dengan dosa-dosa biasa, akan tetapi dengan kesyirikan dan kekufuran. Dan dalam surat Al Baqarah : 178 dikatakan :

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya…”

    Dalam ayat ini, sang pembunuh dan keluarga yang dibunuh tetap dipersaudarakan. Membunuh sesama muslim adalah dosa besar, tapi tidak menjadikan seseorang keluar dari Islam selama dia tidak menghalalkannya.

    Demikianlah beberapa dalil tentang orang yang beriman dari Al Qur’an, sedangkan berikut ini adalah beberapa dalil dari As Sunnah :

    1.Dalam hadits Al Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu’anhuma, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, bila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga darah dan hartanya dari saya, kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka adalah atas Allah”

    Rasulullah tidak berhenti memerangi manusia sampai mereka komitmen dengan Laa ilaaha illallaah, iman kepada Allah dan kufur kepada thaghut serta mengakui risalah yang dibawa beliau kemudian membenarkannya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Ini sama dengan penjelasan sebelumnya.

    2.Dalam hadits Al Bukhariy yang dari Abu Malik Al Asyja’iy radliyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedang perhitungannya atas Allah ta’ala”.

    Seseorang dikatakan haram darah dan hartanya, dalam arti dia itu dikatakan muslim, bila komitmen dengan Laa ilaaha illallaah ─iman kepada Allah dan kafir kepada thaghut─, yaitu kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka barulah dikatakan muslim mukmin.

    Dan berikut ini adalah beberapa Ijma dari para ulama Ahlus Sunnah:
    Syaikh Abdurrahman ibnu Hasan rahimahullah mengatakan: “Para ulama salaf dan khalaf, dari kalangan shahabat, tabi’in, para imam dan seluruh Ahlus Sunnah telah ijma, bahwa seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengan mengosongkan diri dari syirik akbar dan berlepas diri darinya…..”. (Ad Durar As Saniyyah: 11/545-546).

    Dalam hal ini orang tidak dikatakan muslim bila tidak mengosongkan dirinya dari syirik akbar, tidak berlepasdiri darinya dan dari para pelakunya. Ini adalah ijma (kesepakatan) ulama… maka perhatikanlah.

    Oleh sebab itu, jika masih atau belum berlepas diri daripada kemusyrikan, maka dia itu belum muslim meskipun dia melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang lainnya. Dan selagi dia belum mengosongkan diri dari kesyirikan, maka dia belum muslim walaupun dia shalat, zakat, haji, dan yang lainnya…

    Syaikh Sulaiman ibnu Abdillah ibnu Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan : “SEKEDAR mengucapkan Laa ilaaha illallaah tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan konsekuensinya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik akbar serta kafir terhadap thaghut, maka sesungguhnya (pengucapan) itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma” (nukilan ijma dari kitab Taisir Al ‘Aziz Al Hamid)

    Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah , dia shalat, zakat, shaum dan walaum haji berkali-kali, akan tetapi jika dia tidak meninggalkan syirik akbar, tidak kafir terhadap tahghut, maka dia itu bukan muslim dan tidaklah manfaat pengucapan Laa ilaaha illallaah-nya.

    Syaikh Hamd ibnu ‘Atiq rahimahullah mengatakan : “Ulama ijma (sepakat), bahwa orang yang memalingkan satu macam dari dua do’a kepada selain Allah, maka dia telah musyrik walaupun mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dia shalat dan zakat serta mengaku muslim”. (Ibthalut Tandid Bikhtishar Syarh Kitab Tauhid, hal: 76)

    Do’a ada dua macam; yaitu do’a yang berupa permohonan yang biasa kita ketahui, dan do’a berupa ibadah seperti; shalat, shaum, zakat, haji, penyandaran hukum, dan lain-lain.

    Jadi, bila seseorang memalingkan satu macam ibadah saja kepada selain Allah, maka dia itu musyrik meskipun mengucapkan kalimat tauhid, shalat, shaum, zakat dan mengaku sebagai seorang muslim.

    Syaikhul Islam Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan tentang para pengikut Musailamah Al Kadzdzab dalam Syarh Sittati Mawadli Minash Shirah dalam Mujmu’atut tauhid hal. 23 :

    “Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kembali menyembah berhala seraya mengatakan : “Seandainya dia (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) itu adalah Nabi, tentulah tidak akan mati”.

    Dan di antara mereka ada yang tetap di atas dua kalimah syahadat, akan tetapi dia mengakui kenabian Musailamah dengan dugaan bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan dia di dalam kenabian, ini karena Musailamah mengangkat para saksi palsu yang bersaksi baginya akan hal itu, namun demikian para ulama ijma bahwa mereka adalah orang-orang murtad meskipun mereka jahil akan hal itu. Dan siapa yang meragukan kemurtaddan mereka, maka dia kafir”

    Bila saja orang yang tidak melakukan kesyirikan, akan tetapi mengangkat seorang manusia bisaa sederajat dengan nabi maka ia telah divonis murtad dan segala amal ibadahnya tidak dianggap, dan bahkan diperangi oleh Abu Bakar Ash Shiddiq dan para shahabat lainnya… maka apa gerangan dengan orang yang mengangkat makhluk pada derajat uluhiyyah (ketuhanan) dengan cara memberikan satu atau beberapa macam dari sifat-sifat khusus ketuhanan…?? Maka ini lebih syirik lagi, lebih kafir lagi dan lebih murtad lagi jika sebelumnya dia mengaku muslim !

    Beliau ( Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab) rahimahullah juga menukil ijma tentang pengkafiran penguasa ‘Ubaidiyyin di Mesir. Beliau berkata dalam suratnya kepada Ahmad ibnu Abdil Karim Al Ahsaa’iy, beliau menjelaskan : “Di antara kisah yang terakhir adalah kisah Bani ‘Ubaid, para penguasa Mesir dan jajarannya, mereka itu mengaku sebagai ahlul bait, mereka shalat jama’ah dan shalat jum’at, mereka juga mengangkat para qadliy dan mufti, akan tetapi ulama ijma akan kekafiran mereka, kemurtadannya, keharusan untuk memeranginya, serta bahwa mereka adalah negeri harbiy, wajib memerangi mereka meskipun mereka (rakyatnya) dipaksa lagi benci kepada mereka” (Tarikh Nejd : 346)

    Pada saat itu kajian ada, kesempatan belajar juga ada, shalat juga mereka lakukan bahkan mereka (Bani ‘Ubaid) yang menjadi imamnya, akan tetapi ulama ijma bahwa mereka itu orang-orang murtad kafir harbiy, karena mereka menampakkan kesyirikan akbar.

    Demikianlah dalil-dalil dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma yang mengatakan bahwa orang tidak dikatakan sebagai orang muslim, kecuali jika dia beriman kepada Allah dan kafir terhadap thaghut. Sedangkan thaghut yang paling besar di antara thaghut-thaghut zaman sekarang ini adalah thaghut hukum dan perundang-undangan berikut para pembuat hukum dan pemutus hukum yang berpedoman dengannya.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan dalam surat An Nisa : 60 :

    “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?. Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir kepada thaghut itu”.

    Dalam ayat tersebut tersirat keheranan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena ada orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an dan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab suci serta pedoman hidup, akan tetapi ketika ada masalah, mereka malah merujuk kepada hukum thaghut… padahal hukum thaghut bukanlah hukum yang Allah turunkan, sedangkan Allah sudah memerintahkan untuk kafir dan menjauhi thaghut.

    Hukum yang dibuat oleh manusia merupakan bisikan syaitan jin, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya:

    “Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya…” (Al An’am: 121)

    Dan ia digulirkan oleh syaitan-syaitan manusia, maka itulah thaghut yang dimaksudkan firman Allah dalam surat An Nisa: 60. Maka segala hukum produk manusia dengan segala bentuknya, baik yang dibuat dalam bingkai demokrasi atau yang lainnya, maka selama itu bukan hukum yang berasal dari Allah berarti itu adalah thaghut, karena hanya ada dua macam hukum; hukum Allah atau hukum thaghut. Sedangkan seseorang tidak dikatakan muslim jika tidak kafir kepada thaghut hukum ini, atau pembuatnya dari kalangan syaitan manusia atau pembisiknya dari kalangan syaitan jin.

    Jika kita sudah memahami bahwa orang muslim itu adalah orang yang berlepas diri dari kesyirikan. Orang muslim adalah orang yang mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan, maka dia adalah seorang mukmin dimana saja dan kapan saja. Sebaliknya, jika orang tidak merealisasikan hal ini, dalam arti walaupun dia beribadah kepada Allah akan tetapi di samping beribadah kepada Allah dia tidak kafir kepada thaghut, tapi justeru malah membela-bela atau loyal kepada thaghut, maka dia bukan orang muslim.

    Kemudian mari kita lihat realita pemerintahan NKRI ini, apakah mereka kafir kepada thaghut dan iman hanya kepada Allah sehingga mereka mendapat predikat mu’min, sehinggga mereka menjadi ulil amri yang wajib ditaati sebagaimana penjelasan surat An Nisa: 59 tadi? atau justeru sebaliknya…?

    Tinjauan Realita
    Pemerintah NKRI Bila Dipandang Dari Sisi Tauhid

    A.Mereka Menjadi Thaghut
    Kenapa demikian? Karena mereka dengan dewan legislatifnya dan sebagian eksekutifnya mengklaim sebagai pembuat hukum, mengklaim yang berhak membuat hukum dan perundang-undangan, bahkan mereka telah membuat dan memutuskan, maka mereka adalah thaghut itu sendiri. Mereka menjadi pembuat hukum yang hukumnya diikuti (baca: diibadati) oleh ansharnya.

    1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu”. (An Nisa : 60)
    Banyak masyarakat atau anshar thaghut atau siapa saja di antara mereka, ketika memiliki kasus di negeri ini, apakah mereka mengajukan kasusnya kepada hukum Allah ataukan kepada hukum selaim hukum Allah ? tentu mereka mengajukannya kepada hukum selain hukum Allah, yang mana hukum itu dibuat oleh para thaghut tadi di gedung Palemen, baik yang ada di lembaga legislatif atau lembaga eksekutif maupun para pemutusnya di dewan yudikatif.
    Mereka adalah thaghut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah dalan Risalah Fie Ma’na Thaghut, bahwa pentolan thaghut yang kedua adalah “Penguasa Zhalim Yang Merubah Ketentuan Allah”. Sedangkan di negeri ini, semua hukum Allah dirubah… mulai dari hukum pidana, perdata, ekonomi, dan lain-lain. Semua dicampakkan dan mereka sepakat tidak memakai hukum yang Allah turunkan. Sedangkan sesesorang tidak bisa dikatakan sebagai orang muslim kecuali bila kafir kepada thaghut. Dan dalam hal ini mereka sendiri adalah thaghutnya.

    2.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah : 31)
    Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis:
    1.Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
    2.Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib
    3.Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
    4.Mereka telah musyrik
    5.Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi rab.
    Imam At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy ibnu Hatim (seorang hahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan : “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”, Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka atau kami telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka. Maka Rasul mengatakan: “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?. Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya”, Rasul berkata lagi: Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib)
    Ketika mereka menyandarkan hak hukum dan pembuatan hukum (tasyri’) kepada selain Allah, maka yang mengaku memiliki hak membuat hukum ini disebut arbab, yaitu yang memposisikan dirinya sebagau tuhan pengatur selain Allah. Saat hukum itu digulirkan dan diikuti, maka itu adalah arbab yang disembah. Orang yang sepakat di atas hukum ini atau yang mengacu atau yang merujuk pada hukum yang mereka gulirkan itu adalah orang yang Allah vonis sebagai orang musyrik yang menyembah atau mengibadati atau mempertuhankan mereka serta telah melanggar Laa ilaaha illallaah.

    3.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Maka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (Al An’am: 121)
    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang keharaman bangkai, dan Allah juga menjelaskan tentang tipu daya syaitan. Kita mengetahui bahwa bangkai adalah haram, namun dalam ajaran orang musyrik Quraisy mereka menyebutnya sebagai sembelihan Allah.

    Dalam hadits dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu : Orang musyrikin datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “Hai Muhammad, kambing mati siapa yang membunuhnya ?”, Rasulullah mengatakan : “Allah yang membunuhnya (mematikannya)”, kemudian orang-orang musyrik itu mengatakan : “Kambing yang kalian sembelih dengan tangan kalian, maka kalian katakan halal, sedangakan kambing yang disembelih Allah dengan Tangan-Nya yang Mulia dengan pisau dari emas kalian katakan haram, berarti sembelihan kalian lebih baik daripada sembelihan Allah”.

    Ini adalah ucapan kaum musyrikin kepada kaum muslimin, dan Allah katakan bahwa itu adalah bisikan syaitan terhadap mereka (Dan sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu) untuk mendebat kaum muslimin agar setuju atas penghalalan bangkai, lalu setelah itu Allah peringatkan kepada kaum muslimin jika menyetujui dan mentaati mereka, menyandarkan kewenangan hukum kepada selain Allah meski hanya dalam satu hukum atau kasus saja (yaitu penghalalan bangkai) dengan firman-Nya “Maka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”.

    Dalam ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa :
    1.Hukum yang bukan dari-Nya adalah wahyu syaithan.
    2.Para penggulirnya (yang mengklaim dirinya berhak membuat hukum) dari kalangan manusia disebut wali-wali syaithan.
    3.Yang menyetujuinya atau yang taat atau yang merujuk kepadanya disebut musyrikun.

    Bila satu hukum saja dipalingkan dalam hak pembuatannya kepada selain Allah, maka berdasarkan ayat tadi, bahwa orang yang membuat hukum itu disebut wali-wali syaithan (thaghut) yang telah mendapat wahyu atau wangsit dari syaithan, sedangkan orang yang mentaatinya atau setuju dengan hukum buatan tersebut adalah divonis sebagai orang musyrik.

    Sedangkan yang ada di NKRI ─dan negara-negara lainnya─ adalah bukan satu, dua, tiga, sepuluh, atau seratus hukum saja, akan tetapi seluruh hukum yang ada di sini adalah bukan dari Allah, tapi dari wali-wali syaitan yang mendapat wahyu dari syaitan jin, baik wali-wali syaitan itu dahulunya orang Belanda (yang mewariskan KUHP) ataupun wali-wali syaitan zaman sekarang yang duduk di kursi parlemen, yang membuat, yang merancang, yang menggodok, atau apapun namanya dan siapapun yang membuat hukum, maka pada hakikatnya mereka adalah wali-wali syaitan dan hukum yang mereka gulirkan hakikatnya adalah hukum syaitan.

    Perhatikanlah… jika saja orang-orang yang SEKEDAR mentaati mereka maka Allah memvonisnya sebagai orang musyrik, maka apa gerangan dengan pembuatnya atau orang yang memutuskan dengannya atau orang yang memaksa masyarakat untuk tunduk kepadanya dengan menggunakan besi dan api (kekuatan dan senjata)…?!!
    4.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
    
    “Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dalam dien (ajaran/hukum) ini apa yang tidak diizinkan Allah?”. (Asy Syura: 21)

    Dalam ayat tersebut, siapa saja yang membuat syari’at atau hukum atau undang-undang atau ajaran yang tidak diizinkan oleh Allah dinamakan syuraka (sekutu-sekutu), karena mereka memposisikan dirinya untuk diibadati dengan cara menggulirkan hukum agar diikuti. Mereka merampas hak pembuatan hukum dari Allah, mereka merancang, menggodok, dan menggulirkan di tengah masyarakat. Sedangkan orang-orang yang mentaati atau mengikuti hukum itu disebut orang yang menyembah syuraka tersebut.

    B.Mereka berhukum dengan selain hukum Allah atau memutuskan dengan hukum thaghut
    Mereka berhukum dengan hukum thaghut, karena selain hukum Allah yang ada hanyalah hukum jahiliyyah atau hukum thaghut, ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Maidah: 44 :

    “Barangsiapa yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir”.
    Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

    “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”

    Dalam ayat-ayat di atas, orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan adalah orang-orang kafir, sedangkan pemerintah di negeri ini tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, akan tetapi memutuskan dengan hukum thaghut. Maka merekapun divonis kafir berdasarkan ayat-ayat seperti ini, bahkan Allah mevonis orang-orang yang seperti ini sebagai orang-orang zhalim dan fasiq dalam surat Al Maidah : 45 & 47.

    Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Risalah Fie Makna Thaghut, tentang Ruusuth Thawaghit (tokoh-tokoh para thaghut) yang ketiga yaitu: Yang Memutuskan Dengan Selain Apa Yang Allah Turunkan.

    Jadi pemutus hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah adalah bukan sekedar thaghut, akan tetapi termasuk pentolan thaghut. Sedangkan iman kepada Allah tidak sah kecuali dengan kafir terhadap thaghut, lalu bagaimana mungkin Pemerintah NKRI ini dikatakan sebagai pemerintah muslim mu’min, sedangkan mereka bukan sekedar thaghut, akan tetapi salah satu tokohnya thaghut… maka mereka bukan hanya sekedar kafir, tapi amat sangat kafir !.

    C.Mereka merujuk kepada hukum thaghut, baik thaghut lokal, regional maupun internasional

    Disaat menghadapi masalah, masalah apa saja, maka pemerintah ini tidak merujuknya kepada hukum Allah, tapi kepada hukum thaghut yang bersifat lokal (seperti Undang Undang Dasar atau undang-undang atau yang lainnya), atau hukum-hukum regional, atau hukum-hukum yang ditetapkan oleh mahkamah Internasional PBB. Sungguh… mereka tidak merujuk kepada Al Qur’an atau As Sunnah, akan tetapi merujuk kepada selainnya. Sedangkan dalam surat An Nisa : 60 tadi; Allah merasa heran atas klaim orang-orang yang mengaku telah beriman kepada Al Qur’an dan kitab-kitab Allah sebelumnya, orang-orang yang ketika punya masalah justeru ingin berhakim (mengadukan urusan) kepada thaghut. Perhatikanlah, dalam ayat tersebut sekedar ingin berhukum kepada thaghut sudah Allah nafikan keimanannya, imannya dianggap sekedar klaim dan kebohongan belaka, maka apa gerangan dengan orang-orang yang benar-benar bersumpah untuk merujuk kepada hukum thaghut…?!

    Pemerintah ini, ketika masuk PBB diwajibkan untuk berikrar setuju atas segala peraturan yang digariskannya, begitu juga ketika jajaran pemerintahan dewan legislatif, eksekutif, yudikatif terbentuk, setiap orang diwajibkan bersumpah setia untuk menjalankan hukum negara, inilah syahadat mereka ! inilah bai’at mereka. Apakah di Negara ini ada bai’at untuk taat setia kepada Al Qur’an dan As Sunnah? tentu jawabannya tidak ada ! maka dari itu setelah bai’at kepada Undang Undang Dasar selesai, mereka selalu mengacu kepadanya, jika seorang Presiden misalnya menyimpang, maka DPR/MPR akan memprotesnya dan mengatakan : “Presiden telah melanggar Undang Undang Dasar atau undang-undang atau… atau…” dan tidak akan mengatakan “Presiden telah melanggar Al Qur’an ayat sekian…” Andaikata seluruh isi Al Qur’an dilanggarpun, maka mereka tidak akan mempermasalahkannya, asal tidak melanggar “hukum suci” mereka, yaitu Undang Undang Dasar 1945 dan undang-undang turunannya.

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang berhakim dengan hukum Allah yang telah dihapus adalah kafir, beliau menyatakan : “Barangsiapa meninggalkan hukum yang muhkam (baku) yang diturunkan kepada Muhammad ibnu Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada hukum-hukum (Allah) yang sudah dihapus, maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang mengacu kepada Ilyasa (Yasiq) dan dia mendahulukannya daripada ajaran Allah, maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin” (Al Bidayah Wan Nihayah : 13/119)

    Ilyasa adalah kitab hukum yang dibuat oleh Jengis Khan raja Tartar. Kitab ini merupakan kumpulan yang sebagiannya diambil dari Taurat orang Yahudi, Injil orang Nashrani, Al Qur’an dan ajaran ahli bid’ah ditambah dengan hasil buah fikirannya lalu dikodifikasikan menjadi sebuah kitab yang disebut Ilyasa atau Yasiq. Para ulama muslimin sepakat mengatakan bahwa siapa saja yang merujuk kepada kitab hukum ini, maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin. Maka demikian pula dengan Yasiq ‘Ashri (Yasiq Modern), yaitu Undang Undang Dasar, KUHP, dan lain-lain, dimana hukum itu diambil dari orang-orang Nashrani (seperti orang Belanda dengan KUHPnya), dan ada juga dari Islam seperti dalam masalah pernikahan.

    Jadi ternyata serupa, maka siapa saja yang merujuk pada Yasiq Modern ini, maka iapun kafir dengan ijma kaum muslimin, sedangkan perujukan-perujukan ini telah dilakukan oleh pemerintah NKRI ini…!!

    D.Mereka menganut sistem Demokrasi
    Demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kedaulatan/kekuasaan). Sistem ini merupakan penyerahan hak hukum atau kedaulatan kepada rakyat. Sistem perwakilan yangada di dalamnya memberikan hak ketuhanan kepada wakil rakyat yang duduk di parlemen untuk membuat, menetapkan dan memutuskan hukum.

    Demokrasi merupakan salah satu bentuk perampasan hak khusus Allah dalam At Tasyri’ (pembuatan, penetapan dan pemutusan hukum atau undang-undang). Hak ini adalah hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hak khusus rububiyyah dan uluhiyyah Allah, hak khusus yang seharusnya disandarkan oleh makhluk hanya kepada Allah. Akan tetapi demokrasi merampasnya dan justeru hak itu diberikan kepada makhluk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Hak memutuskan hukum itu hanyalah khusus kepunyaan Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah dian yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Yusuf : 40)

    Firman-Nya “Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”, bermakna : Kalian diperintahkan untuk tidak menyandarkan hukum kecuali kepada Allah, karena Allah-lah yang berhak untuk membuatnya, untuk menentukannya. Dan dalam ayat ini penyandaran hukum kepada Allah disebut ibadah. Sedangkan dalam demokrasi; hukum disandarkan kepada rakyat melalui wakil-wakilnya, maka demokrasi adalah sistem syirik, karena memalingkan ibadah penyandaran hukum kepada selain Allah.

    Demokrasi adalah sistem syirik yang membangun pilar-pilarnya di atas sekulerisme, di atas kebebasan; bebas meyakini apa saja walaupun pendapat syirik atau kekafiran sekalipun. Demokrasi tidak mewajibkan menusia untuk taat kepada ajaran Allah, tapi harus taat kepada kesepakatan rakyat, tatanan perundang-undangan yang berlaku, yang mana notabene adalah hukum buatan manusia.
    E.Mereka memiliki Ideologi/ falsafah/asas/pedoman/ petunjuk hidup /nafas bangsa, yaitu Pancasila.

    Pancasila adalah dien, karena dien adalah jalan hidup, agama, aturan dan pedoman hidup, falsafah atau silahkan orang menyebutnya apa saja… tapi yang jelas Pansacila adalah dien. Ini singkat saja kita tinjau.

    Dalam Pancasila dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi kita tidak tahu siapa yang dimaksud, karena Pancasila mengakui berbagai agama dengan tuhan-tuhannya masing-masing yang beraneka ragam. Maka cukuplah falsafah ini menjadi sesuatu yang rancu bagi orang yang berakal.

    F.Tawalliy (loyalitas penuh) kepada kaum musyrikin
    Mereka loyal kepada Perserikatan Bangsa Bangsa, tunduk kepada undang-undang internasional dan peraturan lainnya yang adala dalam tubuh PBB. Apapun yang ditetapkannya maka otomatis diikuti. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum muslimin untuk loyal kepada orang-orang kafir, Allah menyatakan dalam surat Al Maidah : 51 :

    “Siapa saja yang tawalliy di antara kalian terhadap mereka maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka”

    G.Mereka memperolok-olok ajaran Allah
    Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang segala bentuk kemungkaran, sedangkan pemerintahan Negara ini justeru memberikan izin bagi beroperasinya tempat-tempat kemungkaran dengan dalih tempat hiburan, membiarkan berkembangnya media-media penebar kesyirikan, kekufuran, kerusakan dan kebejatan (dengan dalih kebebasan pers dan kebebasan berekspresi) dan lain-lain. Itu adalah beberapa perolok-olokan terhadap ajaran Allah, sedangkan memperolok-olok ajaran Allah adalah kekafiran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu cari-cari alasan, karena kamu telah kafir sesudah beriman”. (At Taubah: 65-66).

    Intinya, jelaslah bahwa Negara dan pemerintahan ini kekafirannya berlipat-lipat. Setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan tidak tunduk pada aturan Allah, maka negara tersebut adalah negara kafir, negara zhalim, negara fasiq dan negara jahiliyyah berdasarkan firman-firman Allah tersebut. Begitu juga pemerintahnya, karena tidak akan berdiri suatu negara tanpa ada pemerintah pelaksananya.

    Setelah memahami hal ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa TIDAK BENAR ketika orang memerintahkan kaum muslimin untuk loyal kepada pemerintah semacam ini dengan menggunakan dalil surat An Nisa : 59, karena ulil amri dalam ayat tersebut adalah “dari kalangan kalian” yang berarti dari kalangan orang-orang yang beriman, sedangkan pemerintahan NKRI ini sudah kita ketahui bahwa mereka BUKAN orang-orang yang beriman, akan tetapi justeru mereka adalah adalah thaghut, orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang murtad. Jadi, jelaslah isi ayat itu tidak sesuai dengan pemerintah ini.

    Akan tetapi yang tepat bagi pemerintah semacam ini adalah:

    1.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Maka PERANGILAH pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti”. (At Taubah: 12)

    Jadi yang tepat bukan harus ditaati, bukan pula diberi loyalitas, akan tetapi yang semestinya ada adalah sikap qital (perang).

    2.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Maka bunuhilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (At Taubah: 5)

    Jika mereka bertaubat, maksudnya bertaubat dari kemusyrikannya, dari kethaghutannya, dari kekafirannya, mereka mendirikan shalat dan memuanikan zakat, maka berilah mereka jalan dan jangan diganggu. Sedangkan jika pemerintahan ini tidak bertaubat dari kethaghutannya, dari Pancasilanya, dari demokrasinya dan dari kekufuran lainnya, maka mereka masih masuk ke dalam cakupan ayat ini.

    3.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan (wali-wali) syaitan itu” (An Nisa: 76)

    Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dalam rangka mengokohkan hukum Allah, menjunjung tinggi ajaran-Nya, sedangkan orang-orang kafir ─yang di antaranya adalah pemerintahan NKRI ini dan ansharnya─ mereka berjuang, berperang, berkiprah dengan segala cara dalam rangka mengokohkan sistem thaghut. Jadi, mereka berperang di jalan thaghut, maka bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin ? Allah menyatakan “sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu”.

    Perhatikanlah… mereka bukan ulil amri, akan tetapi mereka adalah wali-wali syaitan yang Allah perintahkan untuk memeranginya.

    4.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Dan perangilah mereka itu, sampai tidakada fitnah, dan dien (ketundukan) hanya bagi Allah semata” (Al Baqarah: 193)

    Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, tidak ada lagi ideologi syirik, tidak ada lagi kekafiran, tidak ada lagi penghalang kepada jalan Allah, tidak ada lagi penindasan terhadap kaum muslimin yang taat kepada Allah… bukan taat kepada Pancasila atau Undang Undang Dasar atau demokrasi, tapi hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Selama Ad Dien (ketundukan) belum sepenuhnya kepada Allah, maka al qital (perang) belum berhenti, selama fitnah (bencana) terhadap kaum muslimin yang taat dan berkomitmen dengan ajaran Allah masih dikejar-kejar atau dipersempit hidupnya, masih ditangkapi, dipenjarakan dan masih dibunuhi… maka berarti masih ada fitnah !! Selama kemusyrikan didoktrinkan maka fitnah masih ada. Selama fitnah masih ada maka al qital tidak akan berhenti.

    5.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu (dibinasakan)”. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien itu semata-mata untuk Allah”. (Al Anfal: 38-39)

    Jadi, al qital tidak akan berhenti terhadap para penguasa yang menentang aturan Allah, yang menyebar fitnah (bencana) kemusyrikan dan penindasan terhadap kaum muslimin, merampas dan memeras harta kaum muslimin, baik dengan cara kasar maupun halus, maka qital tidak akan berhenti terhadap pemerintah yang seperti ini.

    “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas dari kamu” (At Taubah: 123)

    Perangilah orang-orang yang ada disekitar kamu, yang ada di dekat kamu dan dalam realitanya bukan hanya dekat, akan tapi mereka telah menguasai harta, diri, dan tanah air kita. Merekalah thaghut penguasa negeri ini, merekalah orang-orang kafir itu. Mereka telah sekian lama memerangi, menindas diri dan merampas harta kaum muslimin. Mereka mewajibkan ini dan itu yang bertentangan dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Merekalah orang-rang kafir yang dekat, maka tidak usah jauh-jauh pergi berperang untuk mencari orang kafir, ini yang dekat justeru sudah memusuhi dan memerangi semenjak dahulu. Bahkan para ulama sepakat bahwa memerangi penguasa murtad adalah lebih harus didahulukan memeranginya daripada orang-orang kafir asli, apalagi orang-orang kafir yang jauh…

    6.Hadits Ubadah ibnu Shamit (HR. Bukhari dam Muslim)

    “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kami, maka kami membai’atnya, maka di antara yang beliau ambil janjinya atas kami adalah kami membai’at(nya) untuk senantiasa mendengar dan taat, disaat senang dan disaat benci, diwaktu sulit dan waktu mudah kami, serta saat kami diperlakukan tidak adil dan agar kami tidak merampas urusan dari yang berhak (penguasa) kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah yang ada pada kalian”

    Sedangkan kita sudah banyak melihat bentuk-bentuk kekafiran yang dianut dan masih senantiasa dilakukan penguasa negeri ini, sehingga tidak layak berdalil dengan surat An Nisa: 59 untuk menggelari pemerintah ini sebagai ulil amri, akan tetapi yang tepat adalah ayat-ayat yang baru saja dibahas dan ditambah dengan hadits ini.

    Para ulama sepakat bahwa orang kafir tidak sah untuk menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Bila pemimpin tersebut asalnya muslim kemudian muncul kekafiran darinya maka wajib untuk mencopotnya dan menggantinya dengan pemimpin yang muslim. Bila tidak mampu mencopotnya karena mereka menggunakan kekuasaan untuk mempertahankannya, maka wajib diperangi.

    Namun dalam relaita zaman ini, kekafirannya bukanlah kekafiran yang bersifat personal, akan tetapi kekafiran yang kolektif dan tersistemkan, sehingga jika penguasa yang satu mati maka sistemnya belum mati dan orang-orang yang setelahnya akan menggantikan dia, karena sistem kafirnya tidak mati dan tetap mengakar.

    Tugas kita adalah wajib menggalang kekuatan dengan langkah awalnya adalah mengerahkan segala kemampuan dalam menggencarkan dakwah tauhid yang berkesinambungan untuk mencabut akar-akar loyalitas terhadap thaghut di tengah masyarakat, sehingga thaghut tidak mempunyai tempat lagi di tengah-tengah masyarakat ini.

    Jihad terhadap thaghut ini haruslah menjadi opini kaum muslimin, kaum muslimin harus merasa memiliki tanggung jawab terhadap masalah ini, sehingga tidak hanya dipikul oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Bukan berarti seluruh kaum muslimin harus terjun dengan menenteng senjata, tapi yang paling penting bagi mereka adalah mereka adalah mereka harus memahami betul bahwa penguasa negeri yang mana mereka hidup di dalamnya adalah penguasa murtad kafir yang tidak boleh diberikan loyalitas, sehingga dengan kesadaran itu lunturlah dukungan kepada para thaghut dan tumbuhlah loyalitas kepada orang-orang yang berkomitmen dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Bila ini terwujud, maka kondisi akan berubah, dukungan kepada thaghut akan berganti dengan penentangan, sehingga mudahlah untuk menjatuhkan para thaghut itu.

    BERSABARLAH…!!! Proses ini tidak mudah dan tidak akan terjadi begitu saja, tahap awal yang patut dilakukan adalah memberikan bayan (penjelasan) atau penyampaian risalah tauhid, karena perlu penyadaran terhadap masyarakat tentang kenapa penguasa negeri ini dikatakan sebagai penguasa kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    “Dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu” (Al Baqarah: 191)

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk mengusir orang-orang kafir sebagaimana mereka pernah mengusir kaum muslimin. Rasulullah diperintahkan untuk mengusir orang-orang kafir sebagaimana mereka telah mengusir Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Perhatikan… para thaghut itu telah mengeluarkan orang-orang yang komitmen dengan ajaran Islam dari jajaran masyarakat dengan cara menanamkan image negatif tentang mereka, memprovokasi, memfitnah dan membodoh-bodohi masyarakat dengan menuduh orang-orang yang bertauhid sebagai orang-orang bodoh, tidak memahami Islam secara utuh, orang yang dangkal pikiran atau orang yang haus dunia dan kekuasaan, maka menjadi wajiblah pula bagi kaum muslimin untuk mencopot para thaghut ini dari benak masyarakat dengan cara menyebarkan ilmu syar’iy, khususnya tentang tauhid dan kewajiban memerangi penguasa semacam itu.

    Begitu pula dalam masalah harta, sebagaimana para thaghut itu telah menjauhkan orang-orang berkomitmen dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari harta mereka, bahkan thaghut selalu berupaya mempersulit hidup mereka, maka wajib pula bagi orang-orang yang bertauhid yang komit terhadap ajaran-Nya untuk menjauhkan thaghut dari harta yang mereka miliki, karena sebagian besar harta yang jatuh ke tangan thaghut digunakan untuk mempersenjatai tentara mereka untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, oleh sebab itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan orang-orang Quraiys agar dilanda paceklik, dengan tujuan agar mereka mendapatkan kesusahan sehingga tidak lagi menindas kaum muslimin dan dana yang mereka keluarkan tidak digunakan untuk mendukung hal itu. Maka haramlah atas setiap muslim untuk membayar atau menyerahkan harta kepada penguasa kafir dalam bentuk apapun, kecuali dalam kondisi terdesak atau dipaksa, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Al Maidah: 2)
    dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

    “Janganlah kalian menyerahkan harta-harta kalian kepada orang-orang bodoh itu” (An Nisa: 5)

    Perhatikanlah… jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang menyerahkan harta kaum muslimin kepada orang-orang yang tidak bisa menggunakan dengan benar, sedangkan bentuk kebodohan yang paling dasyat adalah orang-orang yang tidak suka dengan ajaran tauhid, salah satunya yaitu para thaghut. Allah menyatakan:

    “Dan tidak ada yang benci kepada Milah Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri” (Al Baqarah: 130)

    Jadi, seharusnya harta yang diambil dari kaum muslimin, mereka pergunakan di jalan Allah, bukan di jalan thaghut yang digunakan untuk memerangi Allah dan kaum muslimin.

    Hendaklah diketahui bahwa pemerintahan thaghut ini adalah pemerintahan yang tidak sah, tidak syar’iy, tidak diakui secara Islam. Mereka adalah pemerintah yang memaksakan diri, begitu pula hukum dan undang-undangnya tidak sah, oleh sebab itu kaum muslimin tidak memiliki kewajiban untuk taat pada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah thaghut ini, bahkan bebas untuk melanggarnya selama memenuhi dua syarat, yaitu : selama tidak melakukan sesuatu yang dilarang syari’at dan selama tidak menzalimi orang muslim.

    Demikianlah sikap kita kaum muslim terhadap para thaghut penguasa negeri ini, bukan loyalitas dan taat kepada mereka, tapi ingatlah bahwa kita adalah orang-orang yang ditindas, diperangi dengan berbagai cara; kasar dan halus, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, tapi… sungguh banyak kaum muslimin tidak menyadarinya. Ini karena kebanyakan kaum muslimin belum memahami hakikat Laa ilaaha illallaah. Mereka mengira penguasa negeri ini adalah muslim, karena para thaghutnya itu shalat, shaum, zakat, bahkan haji berkali-kali, padahal penguasa negeri ini telah melanggar hal yang paling penting dan fundamental, yaitu syahadat Laa ilaaha illallaah…

    Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabat serta para pengikutnya sampai hari kiamat. Alhamdulillahirabbil’alamiin…(1)

    1. Materi ini disadur dari rangkaian kajian materi-materi tauhid Ustadz Abu Sulaiman. Materi ini asalnya ceramah kajian via HP kepada seorang tahanan di rumah tahan militer thaghut. (Nov.2006)
    Diposkan oleh abu.icanimovic di 05.05

    Posted by mufakkir islamy | Juni 19, 2013, 5:58 pm
  20. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuhu,
    Saya justru mengalami yang sebaliknya akhi dan ukhti sekalian. Saya pernah memasuki hampir semua lembaga dakwah waktu masih kuliah semisal KAMMI yang beraliran Ikhwanul Muslimin, Gema Pembebasan yang merupakan anak organisasi dari HTI dan juga MPM (Mahasiswa Pecinta Mushallah) yang beraliran salafi. Dan dari ketiganya, MPM-lah yang paling jarang mengghibahi atau memfitnah kelompok2 yang lain, tidak seperti orgnisasi yang paling pertama saya sebutkan yang sangat getol menjelek2an kelompok2 lain dan merasa paling benar. Dari semua aktivis MPM yang saya kenal, hanya satu orang yang pernah saya dengar secara langsung menjelek2an kelompok lain itupun dia lakukan di hadapan pengurus dari kelompok tersebut dan bukan melakukan tindakan pengecut dengan menikam dari belakang. Sekarang dan sudah sangat lama, saya tidak berafiliasi lagi dengan ketiga kelompok yang saya sebutkan tersebut tapi secara objektif, saya menganggap MPM yang beraliran Salafy lah yang terbaik karena tidak seperti tulisan yang antum berikan ini, yang saya dapati justru sebaliknya.
    Wallahu a’lam bisshawab :)

    Posted by Reski Rahab | Juni 24, 2013, 5:47 pm
  21. mudah-mudahan Allah swt segera menyadarkan dan memberi hidayah kepada salafi takfiri, untuk tidak tergesa gesa menyalahkan orang lain, dan tidak melebelkan teroris kepada para mujahidin yang benar-benar memperjuangkan agama islam ini karna Allah SWT,

    Posted by gus | Juli 1, 2013, 12:08 am
  22. assalamu ‘alaikum kepada semua ikhwan atau saudaraku kaum muslimin saya ucapkan selamat idul fitri mohon maaf ada kata yg salah , juga salah ketik… sengaja atau tanpa sengaja…. dari rezky jan dan keluarga… ied mubarak minal aidin wal faizin…

    Posted by rezky jan | Agustus 6, 2013, 4:09 am
  23. marilah kita perbaiki sholat kita agar ditunjukan jalan yang lurus

    Posted by idham | Agustus 7, 2013, 12:10 am
  24. @reski rahab bergaulah lebih jauh dari kampus dan musnahlah anda biar tau lebih banyak.

    Posted by Why | September 4, 2013, 11:42 pm
    • Saya sudah bertahun2 tinggalkan kampus Mr. Why. Saya kerja di dua tempat dan saya sering keluar daerah ataupun provinsi jadi saran anda keliru. Mungkin perkataan anda lebih tepat untuk diri anda sendiri :)

      Posted by Reski | September 28, 2013, 8:41 am
  25. coba RENUNGKAN!
    1. Apakah rasulullah dahulu bermazhab SALAFI/ WAHABI, NU, MUHAMMADIYAH, JT, TASSAWUF, MALIKI, HAMBALI, HANAFI, SYAFII, IKHWANUL MUSLIMIN, SYIAH, AHMADIYAH, KHAWARIJ, dll? TENTU TIDAK!!!!
    2. Apa SUMBER yang kalian PERCAYAI dan membuat kalian BERBEDA antara satu aliran dengan lainnya? Insya Allah anda tahu jawabannya.
    3. Apa SUMBER yang kalian SEMUA PERCAYAI dan TIDAK ADA PERBEDAAN? Insya Allah kalian tahu jawabannya

    Posted by Jaka | September 10, 2013, 7:49 am
  26. saya masuk islam asbab kawan2 JT yg santun dan sderhana.saya ada pngalaman buruk saat brtetangga dgn salafy.saat sya blum islam.

    Posted by made | September 19, 2013, 2:26 am
  27. MARILAH DENGAN LAPANG DADA/ legowo, MOHON PADA ALLOH agar kita semakin memahami ISLAM yang sempuna ini, bukan debat kusir apalagi dengan emosi. jika ingin pemandangan dalam laut yang inda menyelamlah, jika belum paham dakwah salafi mendekatlah dulu, jangan lihat dari jauh. sesungguhnya salafi benar dan indah baik nampak jauh apalagi anda menyelami dakwahnya

    Posted by endri | Oktober 29, 2013, 4:32 am
  28. “Kami sepakat dengan Al Ustadz Al Thalibi yang menarik kesimpulan kalau Salafi itu sebenarnya kelompok hizbiyyah”. Memang Salafi itu hizbi atau firqah diantara 73 firqah, yaitu Firqah Najiyyah,.tidak berpartai, tidak punya organisasi, tidak berjamaah, kalaupun disebut Partai maka dia Partai Allah.(Hizbullah). Dasarnya adalah Al Qur’an, Sunnah, dan pemahaman Sahabat. Pemahaman Sahabat ini sangat ditekankan oleh Salafi krn mereka para sahabat itu telah diridhoi oleh Allah SWTdan dijanjikan oleh Allah SWT Surga. Dan Salafi adalah orang-orang yang berusaha mengikuti mereka/para sahabat dengan baik. Mari kita simak Surah At Taubah ayat 100 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. QS At-Taubah 9:100

    Posted by Muhammad Yusran Siun | November 14, 2013, 6:42 am
  29. sALAFI SESAT MENYESATKAN, PUNYA MULUT GAK DIJAGA, IBU KANDUNG SENDIRI DIMAKI2, ASTAGHFIRULLAH

    Posted by INO | November 27, 2013, 5:45 am
    • maaf kalo ngomong jangan sembarangan. semua orang bisa ngelakuin kesalahan om kalo dia emang mengikuti paham salafi trus dia berbuat kesalahan jadi langsung ngatain salaf sesat? gabisa gituu. jadi kalo anda punya anak trus anak anda bunuh orang dan anda malah yang disalahin padahal anda tau juga itu salah gimana perasaannya? kalo ngomong di olah dulu kata-katanya

      Posted by imam | Maret 19, 2014, 4:10 pm
  30. dari NU ke kajian salaf,ditentang kelurga krna keluarga simbah sy NU tulen paten.
    2th mngikuti kajian salaf,Alhamdulillah ga mnemukan yg njenengan paparkan.
    kemungkinan itu ada,tp kita diberi akal untuk berfikir.kalo sprtinya akhlak ustad kita mnyimpang ya tinggalkan.jgn sampe taqlid buta.
    apalagi sampe buta hati.

    Posted by Ainal Burhanudin | November 27, 2013, 8:47 am
  31. Kritikannya halus dan mengena…

    Intinya bahwa menganggap satu kelompok dakwah saja yang benar dan yang lainnya salah, itu tidak benar…
    Setiap kelompok dakwah memiliki metode yang berbeda2 dalam berdakwah, dan itu tidak salah karena setiap orang juga berbeda2 dalam penerimaannya…
    Bisa jadi metode salah satu kelompok dakwah dapat lebih diterima daripada metode kelompok yang lain, tergantung penerima…
    Jadi tidak boleh merasa paling benar…

    Terimakasih postingannya mas admin, semoga tambah sabar…

    http://m.youtube.com/watch?v=dqy-1engRlE&desktop_uri=%2Fwatch%3Fv%3Ddqy-1engRlE

    Posted by Ahmad | Desember 13, 2013, 11:42 am
  32. Sejujurnya memang tdk bisa dipungkiri ada saudara2 kita yg bermanhaj salaf yg belum memiliki akhlak salafussholeh, sehingga lisan, tulisan, atau perbuatannya tdk nyaman bagi orang lain. Tetapi untuk kemudian menghakimi bahwa pemahaman salaf itu sendiri yg menyimpang, suka mengkafirkan, sok suci ini juga tdklah benar dan tidak fair. Selama ini yg saya tahu paling giat berdakwah tentang kesesatan syi’ah, menguliti hingga detail akidah mereka hanyalah para asatidz salafy bekerjasama dgn mui, hingga umat muslim paling awam pun jd tahu dan bisa waspada bahwa kekufuran semacam syiah ini ada disekitar kita dan bertambah subur, yg paling giat berdakwah bahwa tdk boleh memberontak kepada pemerintah hanyalah para asatidz salafy sehingga jelas pemahaman salaf berbeda jauh dengan khowarij/takfiri atau pelaku teror, jg yg paling hati2 dalam mengambil rujukan dakwah, yaitu menjauhi hadits2 dhoif maupun maudhu/palsu juga para asatidz salafy sehingga umat bisa menjaga amalannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah yg sebenarnya, selain itu yg berdakwah tentang tata cara ibadah keseharian scr detail yg benar sesuai tuntunan Rasul,kebanyakan dr sumber2 bermmanhaj salaf, misal dzikir2 pagi dan petang, puasa ayyaumul bi’idh, keistimewaan hari jumat sehingga disunnahkan memperbanyak sholawat pd nabi di hari jumat, dan berbagai amalan praktis lainnya, sejauh ini bnyk sy peroleh dr kajian atau artikel2 bermanhaj salaf..sehingga manfaat realnya dlm kehidupan sehari2 bisa terasa saat mendengarkan kajian2 salaf ini..o iya, satu lagi…setahu saya, cuma dakwah salaf saja yg menekankan kewajiban muslimah utk patuh pd suami sepenuhnya selama tdk melanggar syariat, dan menekankan agar muslimah tetap di dalam rumah2nya utk pendidikan agama dan akhlak anak2 dan rumah tangganya, dan menjaga kehormatannya..sementara di luar dakwah salaf, sy melihat perempuan muslimah diridhoi utk jd aktivis atau berdakwah dimuka umum..wallahua’lam

    Posted by ummu rangga | Januari 17, 2014, 11:48 pm
  33. alhamdulillah, sesungghny tuduhan2 terhadap salafiun d atas tidak benar,,

    Posted by adin | Januari 21, 2014, 1:57 pm
  34. Allahu akbar wa lillahilhamd.

    Sepertinya, Salafi yang menuduh.
    Ternyata, Salafi yang tertuduh.

    Posted by Hilga | Februari 2, 2014, 5:26 pm
  35. gue g bisa bayangin. bisa g salafi hidup selain d bumi.
    karena semua tanah bumi saat ini dipkai hukum yahudi.
    k brunei aja sono.denget2 tu negara pk syariat islam ( tapi sultanya mau g y lengser )
    nolak wujudnya tpi g nolak manfaatnya. muna tuh nmanye

    Posted by heru | Mei 7, 2014, 7:41 pm
  36. INILAH YANG TERJadi saling MENYALAHKAN , MERASA AMAL UDAH DI JAMIN DI TERIMA DAN MERASA DOSA TELAH DIAMPUNI…..

    Posted by fadhliananda | Juli 9, 2014, 5:15 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: